LIFE OF RAMA
Bab 1 – Senja di Perempatan Kota
Langkah-langkah kaki Rama terasa berat sore itu. Hujan gerimis baru saja reda, meninggalkan aroma tanah basah bercampur asap knalpot yang menguap di udara. Jaket kerjanya sedikit lembap, dan tas ransel hitam di pundak terasa makin berat entah karena isi di dalamnya atau karena beban pikiran yang menumpuk.
Jam di ponselnya menunjukkan pukul 17:42. Jalanan di depan kantor sudah mulai padat suara mesin, klakson, dan teriakan pedagang kaki lima. sore hari khas seperti kota besar.
“Besok udah gajian aja xixixi… tapi cuma cukup buat bayar kos sama makan sebulan,” gumamnya pelan,
Rama melangkah cepat, ingin segera sampai di halte untuk naik bus pulang. Namun di perempatan dekat taman kota, matanya menangkap sesuatu yang membuatnya secara tidak sadar memperlambat langkahnya.
Di bawah lampu jalan yang menyala, seorang wanita berdiri sambil memegang handphone. Rambut panjangnya tergerai rapi berwarna kuning, meski sedikit berantakan karena angin sore. Ia mengenakan kemeja putih dengan rok panjang biru, dan di tangannya ada ponsel yang terus ia lihat, seakan sedang menunggu seseorang menjemputnya.
Cantik. Begitu cantik hingga Rama sempat mengira wanita itu model atau selebgram. Namun ekspresinya menunjukkan sedikit kegelisahan, matanya sesekali melirik ke sekitar. dengan sedikit mengigit bibirnya, dengan terlihat muka memerah seperti sedang cemas.
Rama baru sadar ada dua pria berdiri tidak jauh darinya. Mereka berpakaian seadanya, tapi tatapan mata mereka jelas menilai-nilai wanita itu. Salah satunya bahkan sudah mulai berjalan mendekat sambil tersenyum tipis.
“Hai, cantik. Lagi nunggu siapa? Boleh kita temenin?” suara pria itu terdengar ramah di permukaan, tapi ada nada licik dan mesum yang membuat Rama mengerutkan kening.
Wanita itu menggeleng singkat, “ga, makasih,” suaranya tegas. Ia memalingkan muka, berusaha fokus ke ponselnya.
Rama berdiri mematung beberapa detik. Otaknya berdebat sendiri ini bukan urusannya, tapi hatinya tidak tenang.
‘Kalau gue cuma lewat, dan ada yang buruk terjadi… gue nyesel seumur hidup.’ pikirnya.
Tanpa terlalu lama menimbang, Rama menarik napas dan berjalan ke arah mereka. Langkahnya dibuat santai, seolah memang mengenal wanita itu.
“Amelia? Maaf lama, macet banget,” ucap Rama begitu dekat, dengan suara yang cukup keras agar dua pria itu mendengar.
Wanita itu terkejut sejenak, lalu matanya berkilau seolah mengerti permainan Rama. Ia tersenyum tipis, lalu berkata, “Oh… samuel. Aku kira kamu nggak jadi datang.”
Pria yang tadi mendekat berhenti langkahnya. Wajahnya berubah masam, lalu ia memberi kode pada temannya. “Ah, yaudah deh. ganggu aja tuh orang,” katanya, lalu mereka mundur sambil melirik kesal.
Rama menghela napas pelan, merasa lega. “Kamu nggak apa-apa, kan?” tanyanya pelan.
Amanda mengangguk. “Iya.. terima kasih. Tadi agak canggung sih.”
“Lagi nunggu jemputan?” tanya Rama sambil melirik ke arah jalan.
“Iya. Supirku bilang terjebak macet di daerah seberang kota. Kayaknya butuh setengah jam lagi.”
Rama berpikir sejenak. “Kalau gitu, mau aku temenin di sini? Atau kita cari tempat yang agak rame dulu?”
Amanda terlihat ragu. “Boleh... asal nggak merepotkan.”
“Repot sih enggak... cuma lapar aja,” jawab Rama sambil tersenyum kecil. Amanda tertawa pelan.
Lalu Rama teringat mereka belum berkenalan selama berbincang, Rama seketika langsung memperkenalkan diri sembari berjalan menuju kafe. “oh iya, sebelumnya kenalin nama aku Rama. nama kamu siapa kalo boleh tau?”
Amanda pun bergegas berbicara. “oh iya... kenalin aku Amanda, btw tadi kok kamu sebut namu aku Amelia. itu nama mantan mu ya?” Amanda dengan senyum manisnya ke arah Rama.
Rama tertegun sejenak. “oh e e enggak bukan kok, itu aku cuma selintas aja di pikiranku?” sambil senyum canggung karena udah so asik.
Mereka pun berjalan bersama ke arah deretan kafe kecil tak jauh dari taman. Namun langkah mereka belum sampai 10 meter ketika terdengar suara siulan dari belakang. Rama menoleh—kali ini, bukan cuma dua pria tadi. Ada empat orang lain yang muncul dari arah gang, salah satunya memegang botol kaca.
Deg. Jantung Rama berdetak lebih cepat. Naluri mengatakan ini akan jadi masalah besar.
Bab 2 – Bayangan dari Gang Sempit
Rama refleks menarik sedikit langkah Amanda ke arah trotoar yang lebih ramai. Tangannya tidak menyentuh, tapi jaraknya cukup dekat untuk memberi sinyal bahwa mereka “bersama”.
Keempat pria yang baru datang melangkah perlahan, seperti singa yang mengitari mangsanya. Salah satu dari mereka—bertubuh kekar dengan jaket kulit—berkata sambil tersenyum tipis, “Eh, eh, mau kemana nih? Kenalan dulu kali… temen lo cantik banget, Bro.”
Rama memasang wajah santai walau hatinya mulai menegang. Ia pernah melihat situasi seperti ini—terlihat biasa di awal, tapi kalau salah gerak bisa berakhir buruk.
“Maaf, Bro, dia lagi buru-buru. Udah ada yang nunggu,” kata Rama, nada suaranya dibuat tenang.
Pria botol kaca di sebelah si jaket kulit menyipitkan mata. “Buru-buru kok malah jalan santai? Nggak usah so jago deh lo.”
Amanda berdiri sedikit di belakang Rama, matanya gelisah, jemari meremas tali tasnya erat-erat.
Rama tahu dua hal: kalau ia berdebat, mereka akan terpancing. Kalau ia diam, mereka juga akan merasa berkuasa. Pilihannya tipis.
“Bang, saya ngerti maksudnya. Tapi beneran, kita nggak cari masalah,” kata Rama lagi, mencoba nada peredam.
Sayangnya, si jaket kulit justru melangkah maju setengah meter, menatap tajam. “Masalah? Lo pikir kita nyari masalah? Kita cuma mau ngobrol santai…” Ia melirik ke arah Amanda. “…sama dia.”
Rama berdiri tegak, matanya tak beralih. “Kalau mau ngobrol, ngobrol sama gue aja. Dia udah punya urusan sendiri.”
Keadaan mulai memanas. Dua pria lain menggeser posisi, membuat formasi setengah melingkar. Rama sadar kalau mereka mencoba menutup jalan keluar.
Di sisi lain jalan, sebuah mobil SUV hitam melaju pelan—Rama berharap itu supir Amanda. Namun, sayangnya mobil itu justru belok ke arah lain.
Jantung Rama berpacu. Ia melirik singkat ke belakang, memastikan Amanda masih di situ, lalu mendekat sedikit ke telinganya dan berbisik cepat, “Kalau aku bilang lari, kamu lari ke arah lampu merah, banyak orang di sana. Jangan tunggu aku.”
Amanda terdiam, matanya membesar, tapi ia mengangguk pelan.
Si jaket kulit melangkah semakin dekat. “Gini aja deh, Bro… lo cabut, biar kita ngobrol sama cewek lo. Fair, kan?”
“Sayangnya… nggak bisa,” jawab Rama, suaranya kali ini lebih tegas.
Ada jeda satu detik yang sunyi, lalu tiba-tiba si botol kaca mengayunkan tangannya—bukan untuk memukul, tapi untuk menakuti. Rama spontan mundur setengah langkah, lalu menempatkan tubuhnya di antara Amanda dan mereka.
“Udah, jalan!” seru Rama pelan tapi tegas pada Amanda.
Dan saat Amanda mulai mundur, salah satu pria mencoba menarik lengannya—
Rama bergerak. Ia menangkap pergelangan tangan pria itu dan mendorongnya menjauh. Pria itu terhuyung, tapi tidak jatuh. Sayangnya, momen itu justru memicu yang lain untuk mendekat.
“Woy, lo nyentuh temen gue?!” bentak si jaket kulit, lalu melangkah cepat.
Tepat saat situasi hampir meledak, suara klakson keras membelah udara. Sebuah sedan hitam berhenti mendadak di pinggir jalan.
Pintu belakang terbuka, dan seorang pria paruh baya dengan setelan rapi keluar. “Nona Amanda!” panggilnya cemas.
Itu supirnya.
Dalam sepersekian detik, Amanda berlari kecil ke arah mobil, menoleh sebentar pada Rama dengan tatapan khawatir.
Rama mundur beberapa langkah sambil menjaga jarak dari para pria itu. Kehadiran mobil mewah dan sopir bersetelan rapi jelas membuat mereka ragu.
Si jaket kulit hanya meludah ke tanah. “Lo beruntung, Bro.”
Rama tidak menjawab, hanya menatap balik dengan tenang.
Saat Amanda masuk ke mobil, ia sempat membuka kaca jendela. “Rama… terima kasih. Aku akan hubungi kamu.”
Mobil pun melaju, meninggalkan Rama berdiri di trotoar dengan napas masih berat.
Gerimis mulai turun lagi.
Rama menatap langit, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.
Di dalam hatinya, ia tahu—ini bukan terakhir kalinya ia akan bertemu Amanda.
Bab 3 – Pesan Tak Terduga
Hujan deras mengguyur kota malam itu. Rama duduk di kosan kecilnya, dindingnya tipis, suara hujan seperti mengetuk-ngetuk pikirannya. Pikirannya masih kembali ke kejadian sore tadi.
Ia sudah mencoba mengalihkan perhatian dengan menonton serial dan membuka media sosial, tapi wajah Amanda yang cemas itu terus terbayang.
Sekitar pukul 21.17, ponselnya bergetar.
Nomor tak dikenal.
Amanda: “Ini Rama kan? Aku Amanda… terima kasih udah nolong aku tadi.”
Rama terdiam beberapa detik. Tangannya bahkan sempat berhenti di udara sebelum mengetik balasan.
Rama: “Iya, nggak masalah. Aku cuma kebetulan lewat.”
Pesan balasan muncul cepat.
Amanda: “Tetap
aja, nggak semua orang mau ikut campur. Kalau nggak ada kamu… aku
nggak tau bakal gimana.”
Rama tersenyum tipis, meski ia tak ingin terlalu memikirkan lebih
jauh.
Rama: “Untung supir kamu cepat
datang.”
Amanda membalas setelah jeda lebih lama.
Amanda:
“Padahal telat 15 menit. Kalau nggak, aku nggak akan ada di
situ.”
Mereka mengobrol sebentar, obrolan awalnya kaku, lalu perlahan cair. Amanda menceritakan kalau ia baru pulang dari rapat di sebuah kafe dengan timnya—ternyata ia sedang merintis bisnis fashion kecil, bukan sekadar “nongkrong” seperti dugaan Rama.
Amanda: “Orang kira aku cuma numpang nama orang tua. Padahal aku pengen punya sesuatu yang aku bangun sendiri. Makanya aku sering meeting di luar.”
Rama: “Keren itu. Jarang banget ada yang mau lepas dari zona nyaman kayak gitu.”
Amanda: “Kamu sendiri kerja di mana?”
Rama: “Karyawan bagian administrasi di kantor ekspedisi. Nggak terlalu seru, tapi cukup buat hidup.”
Amanda membalas dengan emoji senyum.
Lalu ia menambahkan,
“Kalau besok kamu pulang kerja lewat daerah itu lagi…
hati-hati ya. Aku nggak mau kejadian tadi terulang.”
Rama mengetik sambil menahan tawa kecil. “Tenang. Kalau ketemu lagi, aku kabur duluan.”
Amanda: “Haha, nggak boleh. Harus jadi bodyguard aku.”
Obrolan mereka baru berakhir hampir jam 11 malam. Rama meletakkan ponsel, tapi hatinya hangat. Rasanya aneh, baru beberapa jam lalu mereka bahkan tak saling kenal, tapi sekarang ada garis tipis yang mulai terhubung.
Keesokan harinya, hujan sudah reda, langit biru pucat menggantung di atas kota. Rama berangkat kerja seperti biasa. Kantornya berada di lantai 3 ruko sederhana. Hari itu cukup sibuk, laporan pengiriman menumpuk.
Menjelang jam pulang, ponselnya bergetar lagi.
Amanda:
“Kamu pulang jam berapa?”
Rama membalas singkat. “Sebentar lagi, kenapa?”
Amanda: “Mau minta temenin beli bahan di Pasar Baru. Kalau nggak sibuk.”
Rama menatap layar beberapa detik. Ia jarang sekali berinteraksi dengan orang baru, apalagi yang latar belakangnya jauh berbeda. Tapi ada sesuatu di dalam dirinya yang berkata kenapa nggak.
Rama: “Oke. Tunggu di mana?”
Amanda: “Aku jemput aja. Kirim lokasi kantor kamu.”
Sore itu, sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan ruko. Beberapa rekan kantor Rama yang sedang merokok di depan langsung melirik-lirik, saling bertanya dalam bisik-bisik.
Dari dalam mobil, Amanda melambaikan tangan.
Rama masuk,
mencoba menahan rasa canggung.
Mobil melaju melewati jalanan yang mulai padat. Amanda tampak santai, mengenakan sweater oversized dan celana jeans, jauh dari kesan “anak orang kaya yang penuh aksesoris”.
“Biasanya kamu sendiri kalau belanja?” tanya Rama.
“Kadang sama tim, tapi mereka lagi sibuk. Lagian aku butuh sudut pandang cowok buat koleksi terbaru,” jawab Amanda sambil tersenyum.
Pasar Baru sore itu ramai, suara pedagang, aroma kain baru, dan percikan cahaya lampu toko menambah suasana. Amanda terlihat seperti benar-benar menikmati proses memilih bahan, bertanya pendapat Rama soal tekstur dan warna.
Bagi Rama, ini pengalaman yang tak pernah ia bayangkan. Dia yang biasanya hanya melihat dunia dari lorong kantor dan kos, tiba-tiba masuk ke kehidupan yang jauh lebih berwarna.
Di tengah keramaian, Amanda berkata pelan, “Rama… kamu tau nggak? Dunia aku nggak selalu semewah yang orang lihat. Kadang, sepi juga.”
Rama menatapnya, tapi sebelum sempat membalas, pedagang memanggil untuk menunjukkan kain baru.
Namun, dalam hati Rama mulai merasa… pertemuan itu mungkin bukan kebetulan.
Bab 4 – Batas yang Mulai Pudar
Pasar Baru mulai lengang ketika jam mendekati pukul tujuh malam. Lampu-lampu toko perlahan dimatikan, menyisakan cahaya kuning redup dari warung-warung pinggir jalan. Amanda membawa dua tas besar berisi gulungan kain, sementara Rama menenteng sisanya.
“Berat nggak?” tanya Amanda sambil melirik.
“Lumayan, tapi masih kalah sama beratnya laporan kantor,” jawab Rama setengah bercanda.
Amanda tertawa, tapi kemudian menunduk sebentar. “Kamu sering gitu ya? Ngelempar humor supaya nggak kelihatan capek?”
Rama sedikit terkejut. “Kok tau?”
“Aku juga gitu,” jawab Amanda singkat. Ada senyum samar di bibirnya, tapi matanya menyiratkan sesuatu yang tak ingin diungkapkan sepenuhnya.
Mereka keluar dari pasar dan menuju ke parkiran. Malam itu udara lembap, bekas hujan sore tadi masih terasa di trotoar. Ketika mereka hampir sampai di mobil, dari kejauhan terlihat dua orang pria yang sama seperti yang menggoda Amanda tempo hari.
Rama refleks memperlambat langkah, matanya mengamati. Amanda pun
menyadarinya.
“Rama… itu—”
“Aku tau,” potong Rama pelan. “Jangan lihat ke mereka, langsung ke mobil.”
Tapi sebelum mereka sempat masuk, salah satu pria itu sudah
memanggil, suaranya keras dan sumbang.
“Eh… cantik, ketemu
lagi kita. Nggak ngajak kenalan nih?”
Amanda menggenggam erat tasnya. Rama berdiri sedikit di depannya. “Mas, lagi buru-buru. Nggak ada waktu buat ngobrol.”
Pria itu melangkah mendekat, aroma alkohol tercium. “Buru-buru? Sama pacarnya nih?”
Rama menatap tajam, walau jantungnya berdegup lebih kencang. “Iya. Dan dia nggak tertarik.”
Kata “pacar” keluar begitu saja, lebih sebagai tameng. Amanda diam, tapi genggamannya di tas semakin kuat.
Suasana menegang. Lalu, entah karena melihat keramaian di sekitar atau sekadar malas ribut, kedua pria itu mundur sambil melontarkan kata-kata kotor. Rama tak menghiraukan, langsung membuka pintu mobil untuk Amanda.
Begitu mobil melaju, Amanda menatap lurus ke depan. “Kamu nggak harus bilang gitu…”
“Kalau nggak, mereka nggak bakal mundur,” jawab Rama singkat.
Amanda menoleh sebentar, lalu tersenyum tipis. “Terima kasih… pacar dadakan.”
Rama tersenyum kecut. “Pacar dadakan cuma berlaku buat keadaan darurat.”
“Tapi siapa tau daruratnya sering,” balas Amanda sambil menahan tawa.
Perjalanan pulang diwarnai obrolan ringan, tapi di dalam hati keduanya tahu, kejadian itu membuat batas hubungan mereka sedikit bergeser. Yang awalnya cuma kenalan, kini ada rasa ingin melindungi, dan mungkin… ingin tahu lebih dalam.
Sesampainya di depan rumah besar Amanda, mobil berhenti. Pagar otomatis terbuka perlahan, menampakkan halaman luas dengan lampu taman. Amanda melepas sabuk pengaman.
“Besok aku ada meeting lagi. Kalau kamu nggak sibuk… temenin?”
Rama mengangkat alis. “Meeting bisnis atau meeting nyari masalah di jalan?”
Amanda tertawa kecil. “Dua-duanya mungkin.”
Rama mengangguk pelan. “Kita lihat besok.”
Amanda masuk ke rumahnya, dan mobil supir itu berbalik arah. Rama berdiri sejenak di trotoar sebelum memanggil ojek online untuk pulang. Malam itu, ia sadar, hidupnya mulai bergerak ke arah yang tak pernah ia rencanakan.
Bab 5 – Rahasia di Balik Senyum Amanda
Keesokan harinya, hujan turun sejak sore. Jalanan licin dan langit mendung. Rama baru saja keluar kantor ketika ponselnya bergetar.
Amanda: “Kamu sibuk? Aku di kafe dekat
perempatan. Kayaknya meeting hari ini bakal panjang. Butuh teman
ngobrol sebentar.”
“Otw.”
Rama menatap pesan itu lama. “Sebentar” milik Amanda kemarin saja hampir dua jam. Tapi entah kenapa, dia mengetik balasan:
Kafe itu terletak di sudut jalan, dindingnya kaca, dari luar terlihat hangat dengan lampu kuning redup. Amanda duduk di pojok, mengenakan blazer hitam dan kemeja putih, rambutnya diikat rapi. Di mejanya ada laptop terbuka dan setumpuk dokumen.
Rama datang sambil mengibaskan jaket yang basah. “Kayaknya ini bukan sekadar ngobrol sebentar.”
Amanda menutup laptop. “Aku cuma… pengen jeda. Meetingnya bikin kepala panas.”
Mereka memesan minuman—kopi hitam untuk Rama, teh chamomile untuk Amanda. Beberapa menit pertama dihabiskan dengan obrolan ringan. Tapi kemudian Amanda diam, menatap keluar jendela.
“Kamu pernah nggak… merasa semua orang lihat kamu cuma dari uang atau posisi kamu?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja, membuat Rama sedikit bingung. “Maksudnya?”
Amanda menghela napas. “Aku kerja keras, Rama. Bukan cuma karena mau sukses, tapi… karena aku nggak mau semua orang pikir aku cuma numpang nama orang tua. Tapi tetap aja… di belakang, orang bilang aku cuma ‘anak orang kaya yang main bisnis biar kelihatan sibuk’.”
Rama menatapnya serius. “Kalau memang itu yang bikin kamu mau buktiin diri, berarti kamu nggak salah arah. Orang yang ngomong gitu biasanya cuma nggak sanggup nyamain kerja kerasnya.”
Amanda tersenyum tipis, tapi matanya berkaca-kaca. “Kamu gampang banget bilang gitu. Padahal kamu nggak tau rasanya dilihat cuma dari apa yang kamu punya.”
Rama mengangkat alis. “Aku juga pernah. Beda level, tapi rasanya sama. Aku dulu dianggap nggak punya masa depan karena gajiku kecil. Ada yang nggak mau deket cuma karena aku nggak punya motor bagus. Jadi, ya… kita sama-sama pernah diremehkan.”
Amanda menatap Rama lama. Ada sesuatu di sorot matanya yang membuat suasana jadi hening. “Kamu tau nggak… kamu orang pertama yang ngomong sama aku tanpa kelihatan terintimidasi sama latar belakangku.”
Rama terkekeh. “Kalau aku mikirin latar belakangmu, mungkin aku udah kabur dari awal.”
Obrolan itu membuat jarak di antara mereka semakin tipis. Ketika hujan berhenti, Amanda mengajak Rama keluar. Mereka berjalan kaki menuju parkiran, tapi di tengah perjalanan, sebuah mobil hitam berhenti di depan mereka.
Seorang pria berjas turun. “Non Amanda, Tuan mencari Non. Katanya urgent.”
Ekspresi Amanda berubah. “Bilang aku akan pulang setelah urus satu hal.”
Pria itu menunduk hormat, lalu kembali ke mobil. Rama memperhatikan perubahan ekspresi Amanda—ada ketegangan di sana.
“Masalah keluarga?” tanya Rama.
Amanda menghela napas. “Bisa dibilang… urusan yang nggak bisa aku ceritain sekarang.”
Rama tidak memaksa. Tapi dalam hatinya, ia mulai sadar, hidup Amanda mungkin tidak sesederhana yang terlihat. Dan cepat atau lambat, rahasia itu akan menyeretnya masuk.
Bab 6 – Bayangan yang Mengintai
Dua hari setelah pertemuan di kafe, Rama baru pulang dari kantor ketika ponselnya bergetar. Nomor Amanda.
Amanda: “Rama… kamu bisa ketemu aku sekarang? Aku di parkiran mall Sentra.”
Nada suaranya terdengar panik. Rama langsung mengiyakan dan memacu motornya menembus lalu lintas sore.
Mall Sentra tampak ramai seperti biasa, tapi suasana di parkiran basement terasa berbeda—lebih sepi dari biasanya. Rama menemukan Amanda berdiri di dekat sebuah mobil hitam yang pintunya terbuka. Dia mengenakan hoodie abu-abu, menunduk sambil menatap ponselnya.
Begitu melihat Rama, Amanda langsung menarik tangannya. “Kita pergi dulu. Aku jelasin nanti.”
Rama heran, tapi mengikuti langkah cepatnya menuju motornya. Saat hendak naik, Rama sempat menoleh. Di sudut parkiran, dua pria berjaket gelap memperhatikan mereka. Tatapan tajam, ekspresi dingin.
“Aman nggak?” tanya Rama sambil menyalakan mesin.
Amanda hanya menjawab singkat, “Nggak terlalu.”
Mereka melaju tanpa arah jelas. Amanda hanya bilang, “Pokoknya jangan langsung pulang. Nanti aku kasih tau kemana.”
Setelah beberapa menit, mereka berhenti di taman kota yang cukup sepi malam itu. Lampu jalan redup, suara serangga terdengar jelas. Amanda duduk di bangku, memegangi kepalanya.
“Aku nggak mau kamu ikut campur, tapi kayaknya udah terlanjur,” katanya pelan.
Rama duduk di sebelahnya. “Terlalu telat buat bilang gitu.”
Amanda menarik napas panjang. “Pria-pria tadi… mereka orang suruhan salah satu klien bisnis keluargaku. Ada kesepakatan yang gagal, dan entah kenapa mereka malah nyari aku. Katanya, buat ‘tekanan’ ke ayahku.”
Rama terdiam. “Jadi ini… masalah serius.”
Amanda mengangguk, matanya penuh cemas. “Aku kira aku bisa urus sendiri, tapi mereka mulai ngikutin kemana pun aku pergi. Bahkan hari ini, aku ngerasa mereka udah ada di mall sebelum aku datang.”
Suara langkah kaki terdengar mendekat dari arah gelap. Rama spontan berdiri, matanya menyapu sekitar. Dua sosok pria dari parkiran mall tadi kini muncul di ujung jalan setapak taman.
“Amanda, di belakangku,” kata Rama pelan tapi tegas.
Pria itu mendekat, salah satunya berkata, “Kami cuma mau ngobrol sebentar, Mas. Nggak usah tegang.”
Nada suaranya manis, tapi tatapannya tajam.
Rama tahu ini bukan saatnya banyak bicara. Dia menarik tangan Amanda dan berjalan cepat ke arah motor. Salah satu pria mulai mempercepat langkah.
Begitu mereka hampir sampai ke motor, suara langkah menjadi lari. Rama langsung menghidupkan mesin dan melaju, meninggalkan teriakan marah dari belakang.
Di perjalanan, Amanda terdiam. Rambutnya yang keluar dari hoodie tertiup angin. Rama menatap sekilas lewat spion, memastikan tidak ada yang mengikuti.
“Aku janji,” kata Amanda lirih, “kalau ini semua selesai, aku bakal jelasin semuanya dari awal. Tapi untuk sekarang… aku cuma minta kamu percaya sama aku.”
Rama menghela napas. “Aku nggak tau kenapa aku percaya, tapi… ya sudah. Kita lewatin ini sama-sama.”
Di kejauhan, lampu kota berpendar, tapi Rama punya firasat, ini baru permulaan.
Bab 7 – Mata yang Mengawasi
Keesokan paginya, Rama berangkat kerja seperti biasa. Namun, saat dia keluar dari gang rumahnya, ia melihat sebuah mobil hitam terparkir di ujung jalan. Jendelanya tertutup rapat, tapi dari sela kaca, Rama merasa ada sepasang mata yang menatap tajam ke arahnya.
Dia mencoba mengabaikan, tapi sepanjang perjalanan ke kantor, rasa tidak nyaman itu terus menghantui. Bahkan saat duduk di meja kerjanya, pikirannya melayang ke kejadian malam tadi.
Siang harinya, ponselnya bergetar. Pesan dari nomor tak dikenal:
"Kamu terlalu dekat dengan Amanda. Jaga
jarak kalau mau hidup tenang."
"Kalau mau ngomong, temui saya langsung."
Rama menatap layar ponsel cukup lama. Tangannya gemetar, tapi di dalam dadanya ada campuran rasa takut dan marah. Ia mengetik balasan singkat:
Balasan tak kunjung datang.
Malam itu, Rama pulang sedikit larut. Jalan di depan rumahnya gelap, hanya diterangi lampu jalan yang redup. Saat hendak membuka pintu, ia menyadari ada amplop putih terselip di bawah pintu.
Di dalamnya hanya ada satu foto—foto Rama dan Amanda di taman kemarin malam. Angle-nya jelas diambil dari kejauhan. Di balik foto, tertulis:
"Ini baru peringatan."
Keesokan paginya, Amanda menelepon. Suaranya terdengar lelah.
“Aku
rasa mereka mulai mengincar kamu juga,” katanya.
Rama terdiam. “Jadi… kita harus gimana?”
Amanda menghela napas. “Aku bisa minta bantuan, tapi itu berarti kamu harus siap masuk lebih dalam ke masalah ini. Mereka nggak akan berhenti kalau kita cuma diam.”
Rama menatap langit di luar jendela rumahnya yang mulai mendung. “Aku bukan orang yang suka cari masalah… tapi kalau masalah itu nyari aku, ya aku nggak akan lari.”
Amanda terdiam sesaat, lalu berkata pelan, “Oke. Kalau gitu, kita ketemu malam ini. Aku punya rencana.”
Bab 8 – Kesepakatan di Bawah Langit Malam
Hujan tipis membasahi aspal ketika Rama tiba di sebuah kafe kecil di pinggiran kota. Kafe itu tidak terlalu ramai—hanya ada beberapa pengunjung yang sibuk dengan laptop atau buku. Amanda sudah duduk di pojok, mengenakan hoodie abu-abu dan topi baseball untuk menyamarkan wajahnya.
Begitu Rama duduk, Amanda langsung menggeser secangkir kopi hitam ke arahnya. “Kamu butuh ini,” ucapnya singkat.
Rama tersenyum tipis. “Kopi aja nggak cukup kalau yang kita hadapi orang-orang kayak gitu.”
Amanda mencondongkan tubuhnya, berbicara pelan. “Mereka itu… bagian dari lingkaran bisnis kotor yang dulu pernah mencoba masuk ke perusahaan ayahku. Ayahku menolak, dan sejak itu, mereka selalu mencari cara untuk menjatuhkan keluarga kami.”
Rama memandang mata Amanda, mencoba membaca apakah ada ketakutan di sana. Tapi yang ia lihat justru keteguhan. “Dan sekarang mereka ngincer kamu?”
Amanda mengangguk. “Dan orang-orang yang dekat denganku. Termasuk kamu.”
Suara denting sendok di cangkir dari meja sebelah membuat keduanya refleks menoleh. Seorang pria berjaket hitam menatap mereka sekilas, lalu pura-pura kembali membaca koran. Rama tak bisa menahan rasa curiga.
“Aku punya dua pilihan buat kamu,” lanjut Amanda, matanya tak lepas dari Rama. “Pertama, kita pura-pura nggak saling kenal lagi, biar mereka nggak punya alasan buat ngincer kamu. Kedua, kamu ikut sama aku… tapi itu berarti kamu bakal masuk ke permainan yang jauh lebih berbahaya.”
Rama memutar cangkir di tangannya, berpikir. “Kalau aku pilih yang pertama, aku akan nyesel. Kalau aku pilih yang kedua, mungkin aku bisa mati.” Ia tersenyum pahit. “Tapi setidaknya aku mati sambil berjuang.”
Amanda tersenyum tipis, ada sedikit rasa lega di sana. “Kalau gitu, kita mulai dari sekarang. Malam ini, kamu ikut aku ke suatu tempat. Kita akan ketemu orang yang bisa bantu kita.”
Keluar dari kafe, hujan sudah reda. Jalanan basah memantulkan lampu-lampu kota. Amanda berjalan di depan, langkahnya cepat, sementara Rama mengikuti. Mereka masuk ke gang sempit yang hanya diterangi satu lampu jalan berkelip.
Tiba-tiba, dari arah belakang, suara langkah kaki terdengar mendekat. Rama menoleh—dua pria berbadan besar mengikuti mereka. Amanda meraih lengan Rama, berbisik, “Tetap jalan… jangan lari.”
Namun langkah para pria itu semakin cepat. Salah satunya memanggil, “Hei! Kalian berdua! Berhenti!”
Rama dan Amanda saling pandang. Dalam sekejap, mereka sama-sama tahu: malam ini, permainan benar-benar dimulai.
Bab 9 – Gang yang Mengurung
Suara sepatu menghantam aspal bergema di gang sempit itu. Lampu jalan berkelip, membuat bayangan para pengejar memanjang dan memendek seperti monster yang mengintai.
Rama menoleh sekilas—dua pria berbadan besar semakin dekat. Nafasnya mulai cepat, tapi ia menahan diri untuk tidak langsung lari. Amanda di depannya tampak tenang, tapi Rama bisa melihat tangannya mengepal di saku hoodie.
Tiba-tiba, salah satu pria berteriak, “Berhenti, atau kami buat kalian menyesal!”
Amanda berbisik, “Belok kanan di ujung gang. Ada pintu besi.”
Mereka mempercepat langkah, tapi langkah para pengejar juga makin keras. Rama bisa merasakan adrenalinnya naik. Begitu sampai di ujung gang, pintu besi yang dimaksud ternyata terkunci.
“Bagus…” Rama menghela napas, mencoba menahan panik.
Salah satu pengejar sudah hampir sampai. Pria itu mengeluarkan pisau lipat, ujungnya memantulkan cahaya lampu jalan.
“Serahkan barangnya,” kata pria itu, nadanya tajam.
Amanda menyipitkan mata. “Barang apa? Kami bahkan nggak bawa tas.”
Pria itu hanya tersenyum miring. “Kamu tahu yang kami mau, Nona Amanda. Dan temanmu ini… cuma bonus.”
Tanpa berpikir panjang, Rama maju setengah langkah, mencoba memposisikan diri di antara Amanda dan pisau. “Kalau mau dia, kalian harus lewatin aku dulu.”
Pria kedua tertawa, suaranya berat. “Anak kantoran kayak kamu mau main hero?”
“Bukan mau,” jawab Rama, “tapi harus.”
Pria pertama menyerang cepat, mengayunkan pisaunya. Rama menepis tangan itu dengan reflek, membuat pisau nyaris terlepas. Tapi pria kedua langsung menghantamkan tinjunya ke arah Rama.
Rama terhuyung, tapi Amanda tiba-tiba melangkah maju, menghantam lutut pria pertama dengan tendangan cepat. Pria itu berteriak kesakitan, pisaunya jatuh ke tanah.
Melihat kesempatan, Rama mendorongnya ke dinding, membuatnya terkapar. Pria kedua mencoba menarik Amanda, tapi gadis itu menunduk cepat, lalu menghantam perutnya dengan siku.
Suasana menjadi kacau. Teriakan, suara logam jatuh, dan dentingan air dari talang membentuk harmoni malam yang penuh bahaya.
Pria pertama mulai bangkit dengan susah payah, tapi suara sirine dari ujung jalan membuat mereka panik. Kedua pria itu saling pandang, lalu kabur tanpa menoleh.
Rama berdiri terengah-engah, sementara Amanda membungkuk mengambil pisaunya dan menendangnya jauh ke selokan.
“Kamu oke?” tanya Amanda.
“Sedikit memar, tapi masih utuh,” jawab Rama, tersenyum lelah. “Kamu ternyata lebih berbahaya dari kelihatannya.”
Amanda tersenyum tipis. “Aku sudah bilang, aku nggak manja.”
Mereka kembali berjalan, kali ini dengan jarak yang lebih dekat. Langkah mereka tenang, tapi dalam hati Rama sadar: ia baru saja melangkah lebih jauh ke dalam lingkaran masalah Amanda. Dan entah kenapa, ia tidak menyesal sedikit pun.
Bab 10 – Rahasia Amanda
Suasana sudah lebih tenang ketika Rama dan Amanda keluar dari gang itu. Jalanan besar di depan mereka tampak sepi, hanya ada beberapa mobil lewat. Angin malam menghembus, membawa aroma hujan yang belum turun.
Amanda menatap jam tangannya lalu menoleh pada Rama. “Supirku masih agak jauh. Mending kita tunggu di tempat yang aman.”
Rama mengangguk. “Dimana?”
“Aku tahu satu tempat. Ayo.”
Mereka berjalan melewati beberapa blok, hingga sampai di sebuah kafe kecil yang lampunya remang. Dari luar terlihat biasa saja, tapi begitu masuk, Rama langsung merasa suasananya berbeda. Musik jazz lembut terdengar, dan hanya ada dua pelanggan lain di sudut ruangan.
Pelayan menyambut Amanda dengan senyum sopan. “Selamat malam, Nona Amanda. Mau seperti biasa?”
“Ya, tapi kali ini dua porsi,” jawab Amanda, lalu mereka dipersilakan duduk di meja dekat jendela.
Rama menyandarkan tubuh, mencoba mencerna semuanya. “Tempat ini… kamu sering ke sini?”
Amanda menatap keluar jendela sebelum menjawab. “Ya. Tempat ini milik keluarga salah satu sahabat ayahku. Biasanya aku ke sini kalau ingin sendirian atau… menghindar.”
“Menghindar dari apa?” tanya Rama hati-hati.
Amanda menarik napas, lalu menatap mata Rama. “Orang-orang seperti mereka tadi bukan cuma perampok biasa. Mereka dibayar untuk mengawasi aku. Ada yang mau memastikan aku tidak ikut campur dalam urusan bisnis keluargaku.”
“Bisnis?” Rama mengerutkan kening.
Amanda tersenyum pahit. “Ayahku punya perusahaan besar. Banyak saingan, banyak yang ingin menjatuhkan. Beberapa dari mereka memilih cara kotor. Aku memang berusaha mandiri, tapi itu membuatku sering di luar rumah, dan kadang… aku jadi target.”
Rama terdiam. “Jadi mereka tadi…”
“Bisa jadi disuruh untuk menakut-nakuti aku. Atau lebih buruk.” Amanda mengangkat bahu. “Itulah kenapa aku nggak bisa selalu mengandalkan supir atau bodyguard. Kadang aku harus bisa jaga diri sendiri.”
Pelayan datang membawa dua cangkir kopi panas dan sepiring kue kecil. Amanda mengucapkan terima kasih, lalu kembali menatap Rama.
“Aku nggak tahu kenapa aku cerita ini ke kamu,” katanya pelan. “Mungkin karena tadi kamu nggak ragu maju duluan.”
Rama tersenyum tipis. “Kalau nggak maju, nanti nyesel seumur hidup.”
Amanda tertawa kecil, tapi matanya tetap menyimpan sedikit kekhawatiran. “Kamu sadar kan, sekarang kamu sudah masuk sedikit ke dalam masalahku?”
“Ya,” jawab Rama tenang. “Dan aku nggak keberatan.”
