Prolog : Desa Asri dan Bayang-bayang Ancaman
Di lembah terpencil yang diselimuti kabut, padang rumput terbentang lusuh, tersembunyi dari dunia luar. Sebuah desa kecil bernaung di bawah langit kelabu, dengan awan berat menggantung seperti ancaman yang tak terucap. Bukit-bukit rendah mengitari lembah itu, setia bagaikan penjaga tua, sementara sungai kecil mengalir, airnya berkilau pucat disinari senja. Aroma tanah basah dan rumput liar memenuhi udara, membawa firasat kelam yang perlahan merayap.
Lena Louise, gadis dua belas tahun dengan rambut diikat tali rami compang-camping, berlari menyusuri jalan setapak berbatu. Wajahnya berdebu, jejak petualangan pagi yang kacau, tapi matanya menyala tekad mencari adiknya, Turf, yang kabur usai sarapan. Langkahnya cepat, mengejar waktu yang seolah meluncur darinya. Ia mendekati pondok kayu sederhana, asap tipis membumbung dari cerobong. Di halaman, seorang wanita tua dengan celemek usang menyapu, wajah keriputnya menyimpan cerita yang tak terucap.
“Ibu, apa kau lihat Turf?” tanya Lena, suaranya sopan namun disisipi kekhawatiran. “Dia kabur lagi, dan Ayah akan marah jika kami tak pulang sebelum gelap.”
Wanita tua itu terkekeh, suaranya serak seperti daun kering. “Si kecil nakal itu? Tadi dia main di belakang rumah Pak Tua, bersama Aila. Katanya cari ‘harta karun’.” Ia mengedipkan mata, menunjuk ke pondok di ujung jalan, tempat pohon beringin tua berdiri bagai penjaga rahasia.
Lena mengangguk, senyum tipis penuh lega di bibirnya. “Terima kasih, Ibu!” serunya, lalu berlari menuju rumah Pak Tua, kakinya melompati batu dengan lincah. Aroma bunga keemasan dan rumput liar membangkitkan kenangan samar, tapi langit kelabu di atas terasa seperti mata yang mengintai.
Di halaman belakang pondok Pak Tua, tawa ceria Turf bercampur dengan suara Aila, gadis seusia Lena dengan rambut pirang diikat pita merah. Mereka berjongkok di semak, tangan Turf menggenggam ranting kotor, sibuk menggali batu mengkilap dari tepi sungai.
“Turf!” panggil Lena, tangan di pinggang, suaranya setengah kesal, setengah geli. “Ayah menyuruhmu segera pulang. Apa kau mau kena omel lagi karena telat?”
Turf mendongak, wajah tujuh tahunnya berlumur tanah, matanya berbinar seperti menemukan rahasia dunia. “Kakak, lihat! Batu ajaib!” serunya, mengangkat batu kecil yang berkilau samar. Aila menyela, tertawa dengan nada penuh drama, “Kami yakin ini permata naga! Pak Tua bilang benda begini bikin penyihir ketakutan!”
Lena menggeleng, senyum kecil mengkhianati kekesalannya. “Permata naga atau batu biasa, kalian harus pulang.” Ia meraih tangan Turf, lembut tapi tegas, lalu mengangguk pada Aila. “Kau juga, Aila. Ibumu pasti sudah siap dengan omelan kalau kau telat.”
Mereka menyusuri jalan setapak, tawa Turf menggema seperti lonceng kecil memecah kesunyian desa. Aila berpamitan, berlari pulang dengan pita merahnya berkibar. Di tepi sungai, air jernih berkilau di bawah senja, mencerminkan awan kelam. Turf melepas bajunya dan melompat ke air, mencipratkan riak yang mengenai Lena, membuatnya terkekeh sambil menggeleng. Mereka bermain air, saling menyiram dengan tawa. Lena berjongkok, menyiram punggung Turf. “Turf, diam sebentar! Kalau terus lompat, debumu takkan hilang,” ujarnya, suaranya lembut namun tegas.
Turf meringis, mengeluh karena air dingin, lalu menoleh dengan mata penuh rasa ingin tahu. “Kakak, kalau kita besar, kau mau jadi apa?”
Lena terdiam, tangannya terhenti di air. Ia memandang sungai, bayangan awan gelap melintas di permukaannya. “Ksatria,” gumamnya, matanya menyala. “Seperti Ayah. Menjaga desa ini… atau mungkin seluruh kerajaan.”
Mata Turf berbinar. “Kalau gitu, aku juga ingin jadi ksatria! Kita akan melawan naga!” Tawanya meledak, penuh semangat.
Lena tersenyum, menyiram adiknya hingga membuat Turf sedikit tertawa. Riak air berkilau, tapi di kejauhan, suara samar—seperti langkah kaki di rerumputan—membuat Lena menoleh. Tak ada apa-apa, hanya bayang-bayang pohon yang bergoyang di bawah angin. Ia mengabaikannya, tapi firasat buruk merayap di dadanya.
Tiba-tiba, suara ayah mereka menggema dari tepi desa, serak dan penuh kecemasan: “Lena! Turf! Pulang sekarang!” Lena menoleh ke arah suara itu, jantungnya berdegup kencang melihat ayahnya muncul dari balik pepohonan, wajahnya memucat, matanya membelalak menatap sesuatu di balik sungai. Dalam sekejap, ayah melesat menuju mereka, tubuhnya bagai bayangan kabur yang memecah riak udara, begitu cepat hingga rumput di bawahnya terhempas liar. Ia menyambar Lena dan Turf dari air, tangannya gemetar kuat, napasnya tersengal, lalu menggiring mereka masuk ke hutan di belakang desa. Dari kejauhan, suara gaduh terdengar—jeritan samar, derap kaki, dan gemuruh awan yang mendekat, seolah langit sendiri akan runtuh.
