Tampilkan postingan dengan label DI ANTARA DUA DUNIA | THE RIFT WITHIN. Tampilkan semua postingan

DI ANTARA DUA DUNIA | THE RIFT WITHIN BAB 2



Bab 2 – Dua Pagi Yang Berbeda

Hujan semalam masih menyisakan bekasnya. Jalanan di luar apartemen Reon dipenuhi genangan, daun-daun menempel di aspal, dan langit yang kelabu membuat pagi itu terasa lebih berat dari biasanya. Alarm ponselnya berbunyi terlambat, padahal ia ingat benar sudah menyetelnya pukul tujuh.

Reon duduk di tepi ranjang, memegangi kepala yang masih berdenyut samar. Bayangan lorong abu, sosok dirinya yang menjauh, dan bisikan yang terus mengulang “ini baru permulaan” berputar tak mau hilang. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa semua itu hanyalah mimpi—meski mimpi itu terasa terlalu nyata.

Matanya kembali tertuju pada koran di meja. Kertas itu sedikit lembap, seolah memang terbawa masuk bersamaan dengan udara basah semalam. Ia meraihnya, menatap angka tanggal besar di sudut kanan atas.

9 November.

Padahal, menurut ingatannya, hari ini seharusnya 8 November.

Reon menatap angka itu lama sekali, bahkan membandingkan dengan kalender dinding yang terpajang di samping pintu. Kalender itu jelas masih menandai 8. Ia menelan ludah, mencoba menertawakan hal aneh itu.
“Mungkin percetakan salah cetak…” gumamnya ragu, meski suaranya sendiri terdengar hampa.

Ia melangkah ke kamar mandi. Wajahnya di cermin terlihat pucat, mata sedikit merah, dan ada bayangan gelap di bawah kelopak matanya. Ia mengguyur wajah dengan air dingin, berharap kesadaran datang lebih jernih. Namun, justru ada sensasi lain yang muncul—seolah permukaan cermin bergetar sepersekian detik, menampilkan sosok dirinya dengan ekspresi berbeda: lebih dingin, lebih asing.

Reon terdiam, menatap lekat, namun pantulan itu kembali normal. Ia menyentuh permukaan kaca, hanya dingin yang terasa.
“…aku benar-benar butuh tidur,” bisiknya, setengah menertawakan dirinya sendiri.


Hari berjalan seperti biasa, atau setidaknya berusaha tampak biasa. Reon pergi ke kampus dengan jaket tipis yang masih agak lembap dari semalam. Hujan sudah reda, hanya menyisakan langit mendung yang berat. Suasana kota masih padat, mobil-mobil menyalakan lampu meski matahari sudah tinggi, dan orang-orang berjalan cepat dengan wajah lelah.

Di halte dekat kampus, ia melihat papan iklan digital yang menampilkan berita utama. Saat matanya menangkap baris tanggal di sudut layar, dadanya kembali mengencang.
9 November.

Semua orang berjalan, berbicara, sibuk dengan dunia mereka, seolah tidak ada yang aneh. Tidak ada yang merasa satu hari hilang begitu saja. Hanya dirinya yang menyadari perbedaan itu.

“Kenapa…?” Reon memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan pikiran. Ada kemungkinan ia memang salah ingat. Mungkin semalam ia terlalu lelah, atau memang kepalanya terbentur saat kecelakaan kecil itu. Tapi semakin ia memikirkan, semakin sulit menjelaskan celah antara apa yang ia alami dan kenyataan yang sekarang.


Kelas pagi berakhir tanpa ia benar-benar mendengarkan. Pensilnya menari sendiri di kertas catatan, menggambar pola-pola lingkaran tak jelas, seperti pusaran atau pintu bundar. Sesekali ia menuliskan kata-kata acak: lorong, bayangan, suara, tanggal.

“Reon.”
Sebuah suara memanggil. Ia mendongak, mendapati dosen menatapnya. “Kamu baik-baik saja?”
“Oh—iya, Pak. Maaf.” Reon buru-buru menutup catatannya.
Beberapa mahasiswa di sekelilingnya menoleh sambil tersenyum kecil, tapi ia tidak peduli. Rasa terasing sudah terlanjur menguasai dirinya.

Saat kelas bubar, ia keluar terakhir. Udara di luar terasa lembap, bercampur aroma tanah basah. Reon berjalan menyusuri koridor kampus yang sepi, ketika pandangannya tiba-tiba menangkap sesuatu.

Seorang pria berdiri di ujung lorong—berbalik, punggungnya tegak. Sama persis dengan siluet yang ia lihat semalam di lorong abu-abu.

Napas Reon tercekat.
“Tidak mungkin…”


Ia melangkah cepat, berusaha mendekat. Tapi begitu ia sampai di tikungan lorong itu, sosok tersebut lenyap. Hanya udara dingin yang tertinggal, membuatnya merinding.

Sore harinya, Reon kembali ke apartemen. Hujan turun lagi, kali ini lebih ringan, seperti sisa-sisa badai semalam. Ia membuka pintu, menyalakan lampu ruang tamu, lalu meletakkan tasnya di kursi.

Perasaan aneh itu tak juga hilang. Segalanya tampak biasa, tapi tidak sinkron. Seperti ada detail kecil yang berubah. Misalnya, letak buku di rak yang ia yakin semalam masih di atas, kini berada di bawah. Atau cangkir kopi yang seingatnya sudah ia buang, entah kenapa kembali muncul di meja dengan noda basah baru.

Ia meraih ponselnya, mencoba mengalihkan pikiran. Membuka pesan singkat. Ada chat lama dari Finn, teman masa kecilnya, tapi entah kenapa Reon enggan membukanya. Ia malah membuka galeri foto.

Di situlah ia berhenti.

Ada satu foto yang tidak ia kenali—sebuah gambar kabur, lorong abu-abu dengan cahaya samar. Sama persis dengan tempat yang ia alami semalam. Jantungnya berdetak keras. Ia tidak pernah mengambil foto itu. Tidak pernah.

Tiba-tiba, layar ponsel bergetar, lalu mati total meski baterainya masih 80%. Reon menjatuhkannya ke meja dengan panik. Tubuhnya gemetar, telapak tangannya dingin.

Bisikan itu muncul lagi.
Pelan. Dekat.
“Reon…”

Ia menoleh cepat, namun hanya mendapati ruangan kosong.


Malam datang, membawa kesunyian yang lebih pekat dari biasanya. Reon berbaring di ranjang, lampu kamar padam, hanya cahaya remang dari luar jendela yang masuk. Ia menutup mata, mencoba tidur, tapi pikiran terus berputar.

Tanggal yang berbeda. Foto asing di ponsel. Sosok bayangan di kampus. Semuanya menyatu menjadi simpul yang semakin sulit diurai.

Sebelum benar-benar terlelap, ia mendengar suara ketukan pelan. Dari arah pintu apartemennya.
Tok… tok… tok.

Reon menahan napas. Siapa yang datang larut begini? Ia duduk perlahan, menajamkan pendengaran. Ketukan itu berhenti, digantikan bisikan samar dari balik pintu.

“Jangan ikuti dia…”

Jantungnya hampir meloncat keluar. Suara itu sama seperti di lorong abu.

Dengan langkah gemetar, ia mendekati pintu. Menempelkan telinga di permukaan kayu yang dingin. Tidak ada siapa-siapa. Saat ia memberanikan diri membuka pintu…

Lorong apartemen tampak biasa. Sepi, sunyi. Hanya lampu redup yang berkelip sebentar.

Namun di ujung lorong, Reon melihat sesuatu. Sebuah pintu. Pintu yang ia yakin tidak pernah ada sebelumnya.


Reon menutup pintu apartemennya kembali, mundur dengan napas terengah. Tangannya memegangi dada, mencoba mengendalikan diri. Dunia nyata sudah tidak lagi konsisten. Waktu terasa retak, detail-detail kecil berubah seenaknya, dan sekarang—sebuah pintu baru muncul di lorong apartemennya.

Pertanyaan besar menghantam kepalanya:
Apakah ia sedang hidup di dunia nyata?
Atau masih terjebak di lorong abu-abu itu?

Satu hal yang pasti: ia tidak bisa lagi menganggap semua ini sekadar mimpi.

Dan bisikan itu, entah mengapa, terdengar hampir seperti peringatan… sekaligus undangan.


 

DI ANTARA DUA DUNIA | THE RIFT WITHIN BAB 1


Bab 1 – Hujan Pertama


Langit sore itu runtuh dengan cara yang pelan tapi pasti. Awan hitam menggumpal seperti kapas basah yang diperas, menggantung rendah seolah hendak menindih kota. Hujan turun tanpa jeda—menerpa atap seng, jendela, jalanan, hingga tubuh orang-orang yang terburu-buru mencari tempat berteduh. Bau aspal basah bercampur dengan aroma tanah yang terangkat, membentuk wangi khas yang hanya hadir di awal musim hujan.

Reon berdiri di tepi trotoar, tubuhnya sedikit bergetar karena jaket tipis yang ia kenakan tidak mampu menahan dingin. Payungnya—entah kenapa—tertinggal di apartemen. Ia baru saja pulang dari sebuah pertemuan singkat di kampus, meski sebenarnya tidak ada alasan penting untuk datang hari itu. Langkah kakinya terasa berat, seolah hujan bukan hanya air, melainkan beban yang menempel pada sepatu dan pakaiannya.

Suara kendaraan bercampur dengan percikan ban yang membelah genangan, lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, dan di sela semua kebisingan itu, Reon merasa ada sesuatu yang janggal.

Bukan pada hujan. Bukan pula pada jalan yang biasa ia lewati setiap hari.
Tapi pada dirinya sendiri.

Sejak pagi tadi, ada perasaan samar yang tak bisa ia jelaskan—semacam dejavu yang tidak punya titik awal. Ia merasa sudah mengalami hari ini sebelumnya, meski detilnya tidak jelas. Seperti sebuah mimpi yang terlupakan saat bangun, namun meninggalkan serpihan rasa di ujung pikiran.

Reon menarik napas panjang, lalu melangkah menyeberang jalan. Lampu lalu lintas sudah beralih merah, mobil-mobil berhenti, dan ia bergegas melewati zebra cross yang tergenang air setinggi mata kaki. Hujan makin deras, membuat pandangan menjadi buram.

Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah.
Lalu sebuah cahaya putih menyilaukan.

“—!”

Suara klakson memekakkan telinga. Dari sisi kanan, sebuah motor melaju terlalu cepat, ban depannya kehilangan kendali di atas genangan, dan belum sempat menghindar, Reon merasakan tubuhnya terdorong keras. Waktu melambat. Pandangan terbalik. Rasa sakit menghantam kepalanya begitu tiba di aspal. Dunia berputar, lalu gelap.

...

Reon membuka mata.

Bukan di jalan.
Bukan di rumah sakit.

Ia berdiri di sebuah lorong panjang. Gelap, namun tidak sepenuhnya. Ada cahaya samar keabu-abuan yang tidak jelas dari mana asalnya, seperti kabut bercahaya yang merayap di sepanjang dinding. Dinding itu sendiri tidak bisa ia definisikan—bukan batu, bukan kayu, bukan pula logam. Lebih mirip permukaan kaca buram yang berdenyut perlahan, seperti sedang bernapas.

“Di... mana ini?” suaranya serak, nyaris tenggelam oleh gema aneh yang bergema di lorong itu.

Tidak ada jawaban.
Hanya hening, lalu...

Reon...

Ia tersentak. Suara itu begitu jelas, meski seperti datang dari dalam kepalanya. Lembut, nyaris berbisik, namun cukup kuat untuk membuat bulu kuduknya berdiri.

Reon... kau bisa mendengarku, kan?

Ia memutar tubuhnya, matanya menajam menembus kabut keabu-abuan. Tidak ada siapa pun. Lorong itu terasa panjang tanpa ujung, namun di kejauhan ia melihat sesuatu: siluet seorang pria berjalan menjauh, punggungnya tegak, langkahnya tegas.

Reon menahan napas.
Siluet itu... dirinya sendiri.

Sosok itu berpakaian persis seperti dirinya—jaket tipis basah, celana jeans yang warnanya sedikit pudar. Bahkan cara berjalan dan bentuk rambutnya pun sama. Seperti sedang melihat pantulan di cermin, hanya saja pantulan itu bergerak bebas meninggalkan dirinya.

“Hei! Tunggu!” Reon berteriak, suaranya menggema tanpa jawaban.

Sosok itu tidak menoleh. Tidak memperlambat langkah. Justru semakin jauh, semakin kabur di balik kabut abu yang menelan lorong.

Reon berlari. Kakinya menghantam lantai yang tidak terasa padat, seakan berlari di atas permukaan air yang beku. Setiap langkah menimbulkan riak samar yang memudar sebelum sempat dilihat jelas. Ia berusaha mendekat, tapi jarak itu tidak pernah berkurang. Sosok dirinya selalu lebih jauh satu langkah, dua langkah, tiga langkah... hingga akhirnya hilang.

“Tidak mungkin...” Reon terhuyung, terengah. Dadanya sesak. Ia menatap lorong kosong itu, dan perasaan dingin menjalari tulangnya.

Reon... jangan ikuti dia.

Suara bisikan itu muncul lagi, kali ini lebih jelas. Lebih dekat. Seakan tepat di telinganya. Reon berbalik, tapi tidak ada siapa pun di belakangnya. Hanya kabut yang terus bergolak.

“Siapa kau?” suaranya bergetar. “Apa yang terjadi padaku?”

Tidak ada jawaban.
Hanya bisikan terakhir sebelum semuanya kembali gelap:

Ini baru permulaan.

...

Tubuhnya tersentak.

Reon membuka mata, kali ini benar-benar di apartemennya sendiri. Atap putih pucat menatapnya kembali. Dengung kipas angin tua berputar di langit-langit, suara hujan masih terdengar menghantam jendela. Ia bangun dengan napas terengah, keringat dingin menempel di pelipis meski udara masih dingin.

Matanya menyapu sekeliling. Semua tampak normal. Meja kayu dengan laptop yang masih menyala, rak buku berantakan, dan secangkir kopi dingin di tepi meja. Bau hujan merembes masuk melalui jendela yang tidak tertutup rapat.

“...mimpi?” Reon bergumam. Tangannya menyentuh pelipis yang masih terasa sakit. Tidak ada luka. Tidak ada darah.

Tapi kenangan itu terlalu nyata untuk sekadar mimpi. Lorong abu. Sosok dirinya sendiri. Bisikan itu. Semua terasa lebih nyata daripada sekadar ilusi tidur.

Reon bangkit dari ranjang, berjalan sempoyongan menuju jendela. Ia menatap ke luar—hujan masih deras, lampu-lampu jalan memantul di genangan air. Orang-orang berlarian, sama seperti sebelumnya.

Namun entah mengapa, dunia terlihat... miring.
Bukan secara fisik, melainkan perasaan. Seolah ada sesuatu yang tidak sinkron.

Matanya tertuju pada meja. Ada sebuah koran tergeletak di sana, entah sejak kapan. Reon mengernyit. Ia tidak pernah membeli koran, apalagi membawanya pulang. Dengan hati-hati, ia mengambilnya, lalu matanya membelalak.

Tanggal yang tertera di koran itu adalah besok.

Reon membeku. Jantungnya berdetak lebih cepat.
Dan di sela suara hujan yang menghantam jendela, ia kembali mendengar bisikan samar, nyaris seperti gema dari lorong abu-abu itu.

Ini baru permulaan...