Tampilkan postingan dengan label Louise Bersaudara. Tampilkan semua postingan

Louise Bersaudara - Volume 1 - Bab 1

  


Bab 1 : Pelarian di Tengah Hutan

Ayah mereka melesat layaknya angin hening, tanpa suara, tanpa menggoyahkan dedaunan atau ranting di sekitarnya, namun kecepatannya tak tertandingi, seperti bayangan yang menyelinap di antara pohon. Tubuhnya membawa Lena dan Turf dalam gendongannya yang kuat, pelukannya erat seolah tak ingin melepaskan keduanya meski sejenak. Lena merasakan angin menerpa wajahnya dengan ganas, pepohonan hutan berlalu seperti bayangan kabur di sekitar mereka. Suara jeritan dari desa kini semakin samar, digantikan oleh gemerisik daun yang halus dan ritme napas ayah yang tak manusiawi. Turf menempel ketat di dada ayah, tangannya masih menggenggam batu permata naga itu, matanya lebar karena ketakutan yang tak terucap.

"Kakak... apa yang terjadi?" bisik Turf, suaranya gemetar di tengah hembusan angin. Lena tak bisa menjawab segera; dadanya sesak, pikirannya berputar liar. Apa yang menyerang desa? Apakah Aila selamat? Dan mengapa ayah berlari begitu cepat, aku baru pertama kali melihat ayah seperti ini. Di belakang, suara derap kaki pengejar—seperti pasukan bersenjata—terdengar semakin jauh, tak mampu menyusul kecepatan ayah yang seperti kilat menyambar.

Ayah tak bicara, napasnya tetap teratur meski beban kedua anaknya tak ringan. Hutan semakin lebat, cabang-cabang rendah mencoba menyentuh mereka, tapi ayah menghindar dengan lincah, langkahnya tak pernah melambat. Lena mencoba menoleh ke belakang, tapi angin terlalu kencang, dan ayah memeluknya lebih erat lagi. "Tenanglah, anakku," gumam ayah pelan, suaranya tegas tapi diselimuti kekhawatiran.

Akhirnya, setelah terasa lama padahal mungkin hanya sebentar, ayah mulai memperlambat larinya. Ia berhenti sejenak di balik semak tebal, mata tajamnya menyapu kanan kiri, telinganya menyimak suara hutan. Tak ada tanda pengejar; pepohonan lebat seolah menjadi benteng alami. Ayah menghela napas panjang, keringat tipis membasahi dahinya, tapi tubuhnya tak tampak lelah seperti manusia biasa.

Di depan mereka, dari celah pepohonan, seekor kuda putih muncul seperti mimpi. Tubuhnya kuat dan berotot seperti kuda perang, bulunya berkilau diterpa cahaya senja. Ia berdiri tenang, matanya cerdas, seakan menanti.

Ayah melangkah mendekat perlahan, mengulurkan tangannya dengan hati-hati. 'Tenang... tak apa,' bisiknya lembut, seakan berbicara pada sahabat lama. Kuda itu tidak menolak, tidak pula bergerak gelisah—hanya menatap dengan mata tenang. Saat ayah mengelus lehernya, jari-jarinya menyapu bulu halus, dan kuda itu menundukkan kepala sedikit, seolah memberi izin.

Dengan gerakan hati-hati, ayah terlebih dahulu mengangkat Turf, menempatkannya di atas punggung kuda yang kokoh. Turf sempat tersentak, namun kuda itu tetap tenang, tidak bergeming. Lalu giliran Lena; ayah mengangkatnya dengan mudah dan menaruhnya di belakang Turf. “Pegang erat, Nak,” bisik ayah pada Lena, dengan tatapan yang berusaha menenangkan meski menyimpan kegelisahan

Ayah menuntun kuda menyusuri jalan setapak hutan yang samar, langkahnya kini pelan dan hati-hati. Pengejar tampaknya tak berani masuk ke sini—mungkin karena kegelapan hutan yang semakin pekat, atau rahasia lain yang hanya ayah ketahui. Lena memeluk Turf dari belakang, merasakan tubuh adiknya gemetar. "Ayah... apa yang terjadi di desa?" tanya Lena akhirnya, suaranya pecah. "Aila... Ibu tetangga... mereka baik-baik saja, kan? Siapa yang mengejar kita?"

Turf menambahkan, suaranya kecil, "Dan kenapa kita lari? Apa bayang-bayang itu...?"

Ayah berhenti sejenak, menoleh pada kedua anaknya dengan wajah yang dipaksakan tenang. Mata yang sebelumnya penuh kegelisahan kini memantulkan keteguhan seorang ksatria. “Warga desa akan selamat,” ujarnya pelan, suaranya mantap meski terdengar sedikit bergetar. “Mereka hanya mengejar ayah, bukan kalian maupun desa. Aku akan melindungi kalian berdua. Sekarang, diamlah dan pegang erat. Kita harus terus bergerak."

Lena menatap ayahnya, pertanyaan berputar di benaknya. Rahasia apa yang disembunyikan ayah? Dan mengapa batu di tangan Turf tampak berkilau semakin terang di kegelapan hutan? Kuda putih itu melangkah tenang di depan, membawa mereka masuk lebih jauh ke dalam misteri yang belum terungkap.

Louise Bersaudara - Volume 1 - Prolog


Prolog : Desa Asri dan Bayang-bayang Ancaman

Di lembah terpencil yang diselimuti kabut, padang rumput terbentang lusuh, tersembunyi dari dunia luar. Sebuah desa kecil bernaung di bawah langit kelabu, dengan awan berat menggantung seperti ancaman yang tak terucap. Bukit-bukit rendah mengitari lembah itu, setia bagaikan penjaga tua, sementara sungai kecil mengalir, airnya berkilau pucat disinari senja. Aroma tanah basah dan rumput liar memenuhi udara, membawa firasat kelam yang perlahan merayap.

Lena Louise, gadis dua belas tahun dengan rambut diikat tali rami compang-camping, berlari menyusuri jalan setapak berbatu. Wajahnya berdebu, jejak petualangan pagi yang kacau, tapi matanya menyala tekad mencari adiknya, Turf, yang kabur usai sarapan. Langkahnya cepat, mengejar waktu yang seolah meluncur darinya. Ia mendekati pondok kayu sederhana, asap tipis membumbung dari cerobong. Di halaman, seorang wanita tua dengan celemek usang menyapu, wajah keriputnya menyimpan cerita yang tak terucap.

“Ibu, apa kau lihat Turf?” tanya Lena, suaranya sopan namun disisipi kekhawatiran. “Dia kabur lagi, dan Ayah akan marah jika kami tak pulang sebelum gelap.”

Wanita tua itu terkekeh, suaranya serak seperti daun kering. “Si kecil nakal itu? Tadi dia main di belakang rumah Pak Tua, bersama Aila. Katanya cari ‘harta karun’.” Ia mengedipkan mata, menunjuk ke pondok di ujung jalan, tempat pohon beringin tua berdiri bagai penjaga rahasia.

Lena mengangguk, senyum tipis penuh lega di bibirnya. “Terima kasih, Ibu!” serunya, lalu berlari menuju rumah Pak Tua, kakinya melompati batu dengan lincah. Aroma bunga keemasan dan rumput liar membangkitkan kenangan samar, tapi langit kelabu di atas terasa seperti mata yang mengintai.

Di halaman belakang pondok Pak Tua, tawa ceria Turf bercampur dengan suara Aila, gadis seusia Lena dengan rambut pirang diikat pita merah. Mereka berjongkok di semak, tangan Turf menggenggam ranting kotor, sibuk menggali batu mengkilap dari tepi sungai.

“Turf!” panggil Lena, tangan di pinggang, suaranya setengah kesal, setengah geli. “Ayah menyuruhmu segera pulang. Apa kau mau kena omel lagi karena telat?”

Turf mendongak, wajah tujuh tahunnya berlumur tanah, matanya berbinar seperti menemukan rahasia dunia. “Kakak, lihat! Batu ajaib!” serunya, mengangkat batu kecil yang berkilau samar. Aila menyela, tertawa dengan nada penuh drama, “Kami yakin ini permata naga! Pak Tua bilang benda begini bikin penyihir ketakutan!”

Lena menggeleng, senyum kecil mengkhianati kekesalannya. “Permata naga atau batu biasa, kalian harus pulang.” Ia meraih tangan Turf, lembut tapi tegas, lalu mengangguk pada Aila. “Kau juga, Aila. Ibumu pasti sudah siap dengan omelan kalau kau telat.”

Mereka menyusuri jalan setapak, tawa Turf menggema seperti lonceng kecil memecah kesunyian desa. Aila berpamitan, berlari pulang dengan pita merahnya berkibar. Di tepi sungai, air jernih berkilau di bawah senja, mencerminkan awan kelam. Turf melepas bajunya dan melompat ke air, mencipratkan riak yang mengenai Lena, membuatnya terkekeh sambil menggeleng. Mereka bermain air, saling menyiram dengan tawa. Lena berjongkok, menyiram punggung Turf. “Turf, diam sebentar! Kalau terus lompat, debumu takkan hilang,” ujarnya, suaranya lembut namun tegas.

Turf meringis, mengeluh karena air dingin, lalu menoleh dengan mata penuh rasa ingin tahu. “Kakak, kalau kita besar, kau mau jadi apa?”

Lena terdiam, tangannya terhenti di air. Ia memandang sungai, bayangan awan gelap melintas di permukaannya. “Ksatria,” gumamnya, matanya menyala. “Seperti Ayah. Menjaga desa ini… atau mungkin seluruh kerajaan.”

Mata Turf berbinar. “Kalau gitu, aku juga ingin jadi ksatria! Kita akan melawan naga!” Tawanya meledak, penuh semangat.

Lena tersenyum, menyiram adiknya hingga membuat Turf sedikit tertawa. Riak air berkilau, tapi di kejauhan, suara samar—seperti langkah kaki di rerumputan—membuat Lena menoleh. Tak ada apa-apa, hanya bayang-bayang pohon yang bergoyang di bawah angin. Ia mengabaikannya, tapi firasat buruk merayap di dadanya.

Tiba-tiba, suara ayah mereka menggema dari tepi desa, serak dan penuh kecemasan: “Lena! Turf! Pulang sekarang!” Lena menoleh ke arah suara itu, jantungnya berdegup kencang melihat ayahnya muncul dari balik pepohonan, wajahnya memucat, matanya membelalak menatap sesuatu di balik sungai. Dalam sekejap, ayah melesat menuju mereka, tubuhnya bagai bayangan kabur yang memecah riak udara, begitu cepat hingga rumput di bawahnya terhempas liar. Ia menyambar Lena dan Turf dari air, tangannya gemetar kuat, napasnya tersengal, lalu menggiring mereka masuk ke hutan di belakang desa. Dari kejauhan, suara gaduh terdengar—jeritan samar, derap kaki, dan gemuruh awan yang mendekat, seolah langit sendiri akan runtuh.