DI ANTARA DUA DUNIA | THE RIFT WITHIN BAB 1


Bab 1 – Hujan Pertama


Langit sore itu runtuh dengan cara yang pelan tapi pasti. Awan hitam menggumpal seperti kapas basah yang diperas, menggantung rendah seolah hendak menindih kota. Hujan turun tanpa jeda—menerpa atap seng, jendela, jalanan, hingga tubuh orang-orang yang terburu-buru mencari tempat berteduh. Bau aspal basah bercampur dengan aroma tanah yang terangkat, membentuk wangi khas yang hanya hadir di awal musim hujan.

Reon berdiri di tepi trotoar, tubuhnya sedikit bergetar karena jaket tipis yang ia kenakan tidak mampu menahan dingin. Payungnya—entah kenapa—tertinggal di apartemen. Ia baru saja pulang dari sebuah pertemuan singkat di kampus, meski sebenarnya tidak ada alasan penting untuk datang hari itu. Langkah kakinya terasa berat, seolah hujan bukan hanya air, melainkan beban yang menempel pada sepatu dan pakaiannya.

Suara kendaraan bercampur dengan percikan ban yang membelah genangan, lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, dan di sela semua kebisingan itu, Reon merasa ada sesuatu yang janggal.

Bukan pada hujan. Bukan pula pada jalan yang biasa ia lewati setiap hari.
Tapi pada dirinya sendiri.

Sejak pagi tadi, ada perasaan samar yang tak bisa ia jelaskan—semacam dejavu yang tidak punya titik awal. Ia merasa sudah mengalami hari ini sebelumnya, meski detilnya tidak jelas. Seperti sebuah mimpi yang terlupakan saat bangun, namun meninggalkan serpihan rasa di ujung pikiran.

Reon menarik napas panjang, lalu melangkah menyeberang jalan. Lampu lalu lintas sudah beralih merah, mobil-mobil berhenti, dan ia bergegas melewati zebra cross yang tergenang air setinggi mata kaki. Hujan makin deras, membuat pandangan menjadi buram.

Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah.
Lalu sebuah cahaya putih menyilaukan.

“—!”

Suara klakson memekakkan telinga. Dari sisi kanan, sebuah motor melaju terlalu cepat, ban depannya kehilangan kendali di atas genangan, dan belum sempat menghindar, Reon merasakan tubuhnya terdorong keras. Waktu melambat. Pandangan terbalik. Rasa sakit menghantam kepalanya begitu tiba di aspal. Dunia berputar, lalu gelap.

...

Reon membuka mata.

Bukan di jalan.
Bukan di rumah sakit.

Ia berdiri di sebuah lorong panjang. Gelap, namun tidak sepenuhnya. Ada cahaya samar keabu-abuan yang tidak jelas dari mana asalnya, seperti kabut bercahaya yang merayap di sepanjang dinding. Dinding itu sendiri tidak bisa ia definisikan—bukan batu, bukan kayu, bukan pula logam. Lebih mirip permukaan kaca buram yang berdenyut perlahan, seperti sedang bernapas.

“Di... mana ini?” suaranya serak, nyaris tenggelam oleh gema aneh yang bergema di lorong itu.

Tidak ada jawaban.
Hanya hening, lalu...

Reon...

Ia tersentak. Suara itu begitu jelas, meski seperti datang dari dalam kepalanya. Lembut, nyaris berbisik, namun cukup kuat untuk membuat bulu kuduknya berdiri.

Reon... kau bisa mendengarku, kan?

Ia memutar tubuhnya, matanya menajam menembus kabut keabu-abuan. Tidak ada siapa pun. Lorong itu terasa panjang tanpa ujung, namun di kejauhan ia melihat sesuatu: siluet seorang pria berjalan menjauh, punggungnya tegak, langkahnya tegas.

Reon menahan napas.
Siluet itu... dirinya sendiri.

Sosok itu berpakaian persis seperti dirinya—jaket tipis basah, celana jeans yang warnanya sedikit pudar. Bahkan cara berjalan dan bentuk rambutnya pun sama. Seperti sedang melihat pantulan di cermin, hanya saja pantulan itu bergerak bebas meninggalkan dirinya.

“Hei! Tunggu!” Reon berteriak, suaranya menggema tanpa jawaban.

Sosok itu tidak menoleh. Tidak memperlambat langkah. Justru semakin jauh, semakin kabur di balik kabut abu yang menelan lorong.

Reon berlari. Kakinya menghantam lantai yang tidak terasa padat, seakan berlari di atas permukaan air yang beku. Setiap langkah menimbulkan riak samar yang memudar sebelum sempat dilihat jelas. Ia berusaha mendekat, tapi jarak itu tidak pernah berkurang. Sosok dirinya selalu lebih jauh satu langkah, dua langkah, tiga langkah... hingga akhirnya hilang.

“Tidak mungkin...” Reon terhuyung, terengah. Dadanya sesak. Ia menatap lorong kosong itu, dan perasaan dingin menjalari tulangnya.

Reon... jangan ikuti dia.

Suara bisikan itu muncul lagi, kali ini lebih jelas. Lebih dekat. Seakan tepat di telinganya. Reon berbalik, tapi tidak ada siapa pun di belakangnya. Hanya kabut yang terus bergolak.

“Siapa kau?” suaranya bergetar. “Apa yang terjadi padaku?”

Tidak ada jawaban.
Hanya bisikan terakhir sebelum semuanya kembali gelap:

Ini baru permulaan.

...

Tubuhnya tersentak.

Reon membuka mata, kali ini benar-benar di apartemennya sendiri. Atap putih pucat menatapnya kembali. Dengung kipas angin tua berputar di langit-langit, suara hujan masih terdengar menghantam jendela. Ia bangun dengan napas terengah, keringat dingin menempel di pelipis meski udara masih dingin.

Matanya menyapu sekeliling. Semua tampak normal. Meja kayu dengan laptop yang masih menyala, rak buku berantakan, dan secangkir kopi dingin di tepi meja. Bau hujan merembes masuk melalui jendela yang tidak tertutup rapat.

“...mimpi?” Reon bergumam. Tangannya menyentuh pelipis yang masih terasa sakit. Tidak ada luka. Tidak ada darah.

Tapi kenangan itu terlalu nyata untuk sekadar mimpi. Lorong abu. Sosok dirinya sendiri. Bisikan itu. Semua terasa lebih nyata daripada sekadar ilusi tidur.

Reon bangkit dari ranjang, berjalan sempoyongan menuju jendela. Ia menatap ke luar—hujan masih deras, lampu-lampu jalan memantul di genangan air. Orang-orang berlarian, sama seperti sebelumnya.

Namun entah mengapa, dunia terlihat... miring.
Bukan secara fisik, melainkan perasaan. Seolah ada sesuatu yang tidak sinkron.

Matanya tertuju pada meja. Ada sebuah koran tergeletak di sana, entah sejak kapan. Reon mengernyit. Ia tidak pernah membeli koran, apalagi membawanya pulang. Dengan hati-hati, ia mengambilnya, lalu matanya membelalak.

Tanggal yang tertera di koran itu adalah besok.

Reon membeku. Jantungnya berdetak lebih cepat.
Dan di sela suara hujan yang menghantam jendela, ia kembali mendengar bisikan samar, nyaris seperti gema dari lorong abu-abu itu.

Ini baru permulaan...