LIFE OF RAMA PART 2
Bab 11 – Undangan yang Mengubah Segalanya
Beberapa hari setelah kejadian malam itu, kehidupan Rama kembali seperti biasa. Pekerjaan kantor masih menumpuk, gaji tetap pas-pasan, dan rutinitas pulang-pergi tanpa kejutan. Namun, sejak malam di kafe itu, wajah Amanda selalu muncul di pikirannya.
Suatu sore, tepat ketika Rama hendak pulang dari kantor, ponselnya berdering. Nomor yang tertera bukan nomor yang ia kenal.
“Halo?”
“Rama? Ini Amanda,” suara di seberang terdengar jelas, disertai dentingan gelas seperti dari sebuah restoran.
“Oh, Amanda. Ada apa?”
“Aku mau minta tolong. Malam ini ada acara gala dinner di hotel ayahku. Aku butuh seseorang untuk menemani.”
Rama hampir tertawa kecil. “Kenapa aku? Kamu punya banyak teman, atau bahkan bodyguard—”
“Aku butuh seseorang yang bisa dipercaya,” potong Amanda, suaranya serius. “Dan… yang nggak punya kepentingan pribadi dalam keluargaku.”
Kalimat itu membuat Rama terdiam.
“Kalau kamu setuju, aku jemput jam tujuh. Pakaian formal, ya,” lanjut Amanda sebelum memutus sambungan.
Jam tujuh tepat, sebuah sedan hitam berhenti di depan rumah kontrakan Rama. Amanda keluar, malam itu ia mengenakan gaun navy panjang sederhana tapi elegan, rambutnya diikat setengah.
“Siap?” tanyanya sambil tersenyum.
Rama, yang hanya punya setelan kerja satu-satunya, mengangguk. “Siap malu kalau ternyata ini overdress atau underdress.”
Amanda tertawa kecil. “Tenang, kamu pas.”
Hotel bintang lima itu memancarkan cahaya dari lampu kristal besar di lobi. Begitu mereka masuk, aroma parfum mahal dan suara percakapan orang-orang penting langsung menyergap.
“Aku mau kenalin kamu ke beberapa orang,” bisik Amanda. “Anggap saja… ini peluang.”
Rama mengangkat alis. “Peluang?”
“Relasi,” jawab Amanda singkat.
Mereka berbaur. Amanda mengenalkan Rama pada para pengusaha, direktur, dan tokoh publik. Awalnya Rama canggung, tapi Amanda selalu sigap menyambung percakapan.
Namun di sela-sela acara, Rama menyadari satu hal: ada beberapa tamu yang menatap mereka dengan tatapan tidak ramah. Tatapan yang sama seperti pria-pria di gang malam itu.
Amanda juga melihatnya. Dia mendekat dan berbisik, “Ingat yang aku bilang soal saingan ayahku? Mereka ada di sini juga.”
Rama menelan ludah. “Dan kita tetap di sini?”
Amanda menatapnya dengan senyum tipis. “Justru itu alasannya aku ajak kamu. Aku butuh seseorang di sisiku malam ini.”
Acara semakin ramai. Musik live terdengar, pelayan berlalu-lalang dengan sampanye. Namun saat Rama mengambil minuman, ia melihat salah satu pria yang tadi menatap tajam kini bergerak mendekat ke Amanda, dengan tangan berada di saku jasnya—gerakan yang terlalu mencurigakan untuk dianggap santai.
Rama memutuskan untuk bergerak cepat.
Bab 12 – Gerakan yang Tidak Biasa
Rama meletakkan gelas minumnya di meja terdekat. Matanya tidak lepas dari pria berjas abu-abu yang kini berdiri hanya dua langkah dari Amanda. Wajah pria itu terlihat santai, namun tatapan matanya penuh perhitungan.
Rama maju selangkah, pura-pura mendekati meja makanan, tapi sejatinya ia memotong jarak antara Amanda dan pria itu.
“Permisi, Amanda,” ucap Rama sambil menepuk pelan bahunya. “Kamu janji mau ngenalin aku ke—”
Kalimatnya terputus ketika tangan pria itu bergerak cepat ke saku jasnya. Refleks, Rama menangkap pergelangan tangannya.
“Maaf, Pak,” kata Rama dengan nada tegas namun tetap sopan. “Boleh saya tahu, apa yang Anda pegang?”
Pria itu tersenyum miring, lalu mengangkat tangannya. Sebuah kotak kecil berbentuk persegi terlihat. “Kartu nama. Saya hanya mau memberikannya pada nona ini.”
Rama tetap menatapnya curiga. “Kalau begitu, kasih ke saya saja. Saya pastikan sampai ke beliau.”
Pria itu terdiam sebentar, lalu menyodorkan kartu tersebut pada Rama sebelum melangkah pergi. Namun sebelum benar-benar meninggalkan ruangan, pria itu sempat menatap Amanda sekali lagi dengan senyum tipis yang membuat bulu kuduk Rama merinding.
“Apa tadi itu?” tanya Amanda begitu pria itu menghilang di antara kerumunan.
Rama membuka kartu itu. Kosong. Hanya kertas tebal polos, tanpa nama, tanpa tulisan.
“Kalau ini bukan ancaman, aku nggak tahu lagi apa namanya,” jawab Rama pelan.
Amanda menarik napas panjang. “Aku sudah duga. Mereka mau main psikologis malam ini.”
Rama memandang sekeliling. “Kita harus keluar. Sekarang.”
Amanda menggeleng. “Kalau aku keluar, itu berarti mereka berhasil membuatku mundur. Dan aku nggak mau kasih mereka kemenangan itu.”
Rama menatapnya lama. Ada tekad di mata Amanda—tekad yang sama seperti waktu ia berdiri melawan pelecehan di jalan.
“Baik,” ucap Rama akhirnya. “Tapi aku nggak akan ninggalin kamu sedetik pun malam ini.”
Amanda tersenyum tipis. “Itu yang aku harapkan dari awal.”
Acara kembali berjalan, tapi ketegangan tidak pernah benar-benar hilang. Di setiap sudut, Rama merasa diawasi. Ia mulai paham, dunia Amanda bukan sekadar pesta mewah dan gaun mahal—ini dunia penuh intrik dan permainan kekuasaan, di mana ancaman bisa datang dalam bentuk senyum ramah.
Dan tanpa sadar, malam itu menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih berbahaya bagi keduanya.
Bab 13 – Serangan Pertama
Acara hampir selesai. Musik mulai mereda, para tamu mulai berpamitan. Amanda masih berbincang dengan salah satu kolega bisnis ayahnya, sementara Rama berdiri tak jauh, matanya awas menyapu seluruh ruangan.
Lalu ia melihatnya.
Pria berjas abu-abu tadi—kini tanpa
jas, hanya mengenakan kemeja hitam—berada di balkon luar. Ia
menyalakan rokok, tapi pandangannya tetap ke arah Amanda.
Rama langsung melangkah keluar ruangan, pura-pura ke arah toilet, lalu memutar menuju balkon. “Kita perlu bicara,” ucapnya pelan pada pria itu.
Pria itu membuang asap rokoknya, tersenyum seolah sudah menunggu Rama. “Kamu orangnya… yang sok jadi pahlawan, ya?”
“Aku cuma nggak suka orang aneh mendekati temanku.”
Pria itu tertawa kecil, tapi tatapannya menusuk. “Teman? Nona Amanda itu tiket emas, Nak. Dan tiket emas itu… jarang jatuh ke tangan orang biasa.”
“Kalau tiketnya bukan punyamu, sebaiknya jangan rebut,” balas Rama datar.
Pria itu mendekat, berbisik di telinga Rama. “Kamu nggak tahu apa yang kamu hadapi. Orang-orang di balik Amanda… jauh lebih berbahaya dari yang kamu kira. Bahkan… keluarganya sendiri.”
Rama menegang. Namun sebelum sempat bertanya, suara kaca pecah terdengar dari dalam ruangan.
Rama dan pria itu sama-sama menoleh—seorang pelayan terjatuh, nampan terlempar, dan tepat di belakang Amanda ada dua pria berbadan besar yang bergerak cepat, seperti hendak menggiringnya keluar.
Rama tak pikir panjang. Ia berlari masuk, menembus kerumunan. “Amanda!” teriaknya.
Amanda menoleh, tapi salah satu pria sudah menarik lengannya. Rama menabrak pria itu dari samping, membuatnya terhuyung. Keributan pecah. Para tamu panik, ada yang menjerit, ada yang merekam.
Pria kedua mengayunkan tinju ke arah Rama. Ia menangkis, namun pukulan itu cukup keras membuat bahunya terasa nyeri. Meski begitu, Rama memutar tubuhnya, meraih lengan Amanda, dan menariknya ke arah pintu keluar.
“Cepat ikut aku!”
Mereka berlari menuruni tangga darurat. Di belakang terdengar suara langkah berat mengejar.
“Aku parkir di belakang gedung,” kata Amanda dengan napas terengah.
“Kalau mobilnya dijebak?” tanya Rama sambil terus berlari.
Amanda tak menjawab. Mereka sampai di pintu belakang—dan benar saja, seorang pria lain sudah menunggu, berdiri di depan mobilnya dengan ekspresi penuh ancaman.
Rama meraih kunci dari tangan Amanda, lalu berbisik, “Kalau aku bilang lari, kamu lari.”
Pria itu melangkah maju. “Serahkan dia, dan kamu bisa pergi.”
Rama menarik napas dalam. “Sayangnya, aku nggak pernah jual orang.”
Dan malam itu, pertarungan yang sebenarnya pun dimulai.
Bab 14 – Kejaran di Jalan Malam
Pria yang berdiri di depan mobil Amanda melangkah cepat, berniat menarik pintu. Rama tanpa ragu melemparkan kunci mobil ke udara, pura-pura menjatuhkannya. Saat pria itu refleks menoleh ke arah kunci, Rama langsung mendorongnya ke samping sekuat tenaga.
“Amanda, masuk!” teriaknya.
Amanda buru-buru duduk di kursi penumpang. Rama melompat ke kursi pengemudi, menyalakan mesin dengan sekali putar kunci. Ban mobil langsung berdecit, meninggalkan bau karet terbakar.
Begitu keluar dari area parkir belakang, dua mobil hitam muncul dari arah kanan dan kiri. Lampu sorot mereka menembus malam, seolah tak peduli dengan lalu lintas kota yang mulai lengang.
“Mereka ikut!” seru Amanda, matanya terbelalak.
Rama menggenggam setir erat. “Pegangan yang kuat.”
Ia membanting setir ke kiri, masuk ke jalan sempit di antara gedung perkantoran. Suara klakson dan teriakan warga terdengar saat mobil mereka nyaris menabrak motor yang melintas. Salah satu mobil pengejar ikut masuk, sementara yang satunya lagi memutar ke arah jalan besar, mungkin untuk memotong di ujung.
Amanda mencoba mengatur napas. “Kita mau ke mana?”
“Keluar dari radar mereka dulu,” jawab Rama cepat.
Lampu-lampu neon toko yang hampir tutup berkelebat di kaca spion. Pengejar masih rapat di belakang, jarak tak lebih dari tiga meter. Rama membanting setir lagi, masuk ke gang pasar malam yang sudah hampir sepi. Meja-meja dagangan terbalik saat mobilnya menerobos, membuat pengejar harus melambat beberapa detik.
“Kenapa mereka ngejar aku?” suara Amanda bergetar, tapi matanya tajam menatap ke depan.
“Kayaknya itu yang harus aku tanyakan ke kamu nanti,” balas Rama, matanya tetap awas.
Mereka keluar dari gang, masuk ke jalan besar menuju area pelabuhan. Mobil pertama berhasil memotong dari arah depan, lampunya menyala terang. Rama menurunkan gigi, memacu kecepatan, dan tepat sebelum tabrakan, ia memutar setir ke kanan, membuat mobil meluncur miring dan berhasil menghindar.
Amanda terhuyung di kursinya, tapi tangannya tak lepas dari pegangan pintu. “Kamu… bukan sekadar karyawan biasa, kan?”
Rama hanya tersenyum tipis. “Karyawan biasa nggak bisa ngebut kayak gini.”
Mereka akhirnya sampai di dermaga yang sunyi. Udara laut yang dingin bercampur dengan suara ombak. Rama mematikan lampu mobil, membiarkan mesin tetap menyala, dan berhenti di balik tumpukan kontainer.
“Untuk malam ini, kita aman,” ucap Rama, meskipun ia tahu, ini baru permulaan.
Amanda menatapnya lama. “Kamu tahu… setelah ini, hidupmu nggak akan sama lagi.”
Rama menghela napas, memandang ke arah laut. “Kayaknya aku sudah terlanjur masuk ke masalahmu, Amanda.”
Bab 15 – Rahasia yang Terkuak
Suara ombak memecah kesunyian malam. Di balik tumpukan kontainer, hanya ada suara mesin mobil yang berputar pelan, dan napas Amanda yang belum sepenuhnya tenang.
Rama meliriknya sekilas. “Sekarang, jelasin. Kenapa mereka ngejar kamu?”
Amanda terdiam beberapa detik. Pandangannya kosong menatap ke arah laut, lalu bibirnya bergerak pelan. “Mereka… orang yang sama yang Papa peringatkan. Aku kira cuma urusan bisnis… tapi ternyata lebih gelap dari itu.”
Rama menyipitkan mata. “Gelap gimana?”
“Ayahku sedang menolak kerja sama dengan sindikat ekspor ilegal. Mereka nyelundupin barang lewat jalur laut. Karena Papa nggak mau ikut, mereka mulai ngancam keluarga. Dan… sepertinya malam ini aku target mereka.” Amanda menelan ludah, seolah baru sadar betapa dekat dirinya dengan bahaya.
Rama mengusap wajahnya, berusaha menyerap semua informasi. “Berarti mereka bakal nyari kamu lagi.”
“Makanya aku bilang… setelah ini hidupmu bakal berubah. Kamu udah masuk terlalu jauh,” kata Amanda, menatapnya penuh rasa bersalah.
Rama terdiam beberapa saat. “Aku udah lihat tadi, mereka nyaris ngerusak kamu. Aku nggak bisa diam.”
Tiba-tiba, suara deru mesin terdengar mendekat dari arah jalan utama pelabuhan. Lampu mobil mulai berpendar dari celah kontainer. Amanda refleks menggenggam lengan Rama.
“Mereka nemuin kita?” bisiknya.
Rama mematikan mesin, memberi isyarat agar Amanda diam. Perlahan, ia meraih linggis kecil yang ada di bawah jok mobil—entah kenapa benda itu selalu ia simpan, kebiasaan sejak pindah ke kota.
Langkah-langkah kaki terdengar, semakin dekat. Ada suara pria berbicara di radio, samar-samar terdengar kata “lokasi dermaga timur… target perempuan…”
Rama membisik pelan di telinga Amanda, “Kalau aku bilang lari, kamu langsung lari ke kapal yang sandar di ujung sana. Jangan lihat ke belakang.”
Amanda mengangguk, walau jelas matanya dipenuhi rasa takut.
Ketika bayangan dua pria bersenjata muncul di ujung lorong antara kontainer, Rama menarik napas dalam-dalam…
Bab 16 – Pengejaran di Dermaga
Cahaya lampu sorot dari mobil mereka menembus celah kontainer, menciptakan siluet dua pria dengan senjata di tangan. Rama merendahkan tubuhnya, menarik Amanda agar ikut berjongkok.
“Lari sekarang!” bisiknya tajam.
Amanda tak menunggu dua kali. Dia segera berlari ke arah yang ditunjuk, langkahnya cepat namun hati-hati agar tidak membuat suara berlebih. Rama bangkit, memegang linggis dengan kuat, dan maju ke arah para pria itu.
“Siapa di sana?” teriak salah satu pria, lampu senter di senjatanya menyapu area.
Rama tiba-tiba melompat keluar dari balik kontainer, memukul senter itu dengan linggis hingga padam. Si pria berteriak, terhuyung ke belakang. Yang satunya langsung menodongkan pistol, tapi Rama sudah menjatuhkan dirinya ke tanah dan menyapu kakinya dengan ayunan cepat.
“ARGH!” pria itu jatuh, senjatanya terlepas. Rama menendangnya jauh, lalu berlari ke arah Amanda.
Dari kejauhan, suara mesin kapal yang sedang bersiap berangkat terdengar—ini satu-satunya kesempatan mereka. Amanda sudah hampir mencapai dermaga, namun dari sisi kanan muncul tiga pria lagi, menghadang.
“Amanda!” teriak Rama.
Amanda berhenti mendadak, matanya menatap para pria itu. Wajahnya pucat, tapi dia memutuskan sesuatu—mendadak dia berbalik arah, berlari ke arah tiang besi besar di dermaga, lalu menendangnya hingga tali pengikat kapal terlepas. Kapal mulai bergerak pelan menjauh dari dermaga.
“Lompat!” teriak Rama, berlari sekuat tenaga.
Amanda melompat ke kapal, hampir terpeleset namun berhasil ditarik oleh salah satu awak kapal yang kebetulan melihat. Rama menyusul, melompat di detik terakhir sebelum kapal menjauh sepenuhnya.
Dari atas kapal, Amanda melihat para pria itu mengamuk di dermaga. Salah satu mengeluarkan ponsel, sepertinya memberi kabar pada seseorang.
Rama berdiri di samping Amanda, napasnya berat. “Sekarang kita nggak cuma masalah sama mereka… kita udah bikin mereka malu.”
Amanda menatapnya, sedikit tersenyum di tengah rasa takut. “Berarti kita berdua udah resmi satu tim, kan?”
Rama hanya menatap laut, tapi dalam hatinya dia tahu—ini baru awal dari masalah besar.
Bab 17 – Pelabuhan Kecil
Kapal tua itu akhirnya merapat di sebuah pelabuhan kecil yang jauh dari keramaian. Lampu-lampu redup memantul di permukaan air yang bergoyang tenang. Udara malam membawa aroma asin laut bercampur bau solar.
Rama membantu Amanda turun dari kapal. Dia bisa merasakan tangan Amanda sedikit gemetar, meskipun dari wajahnya gadis itu berusaha terlihat tenang.
“Terima kasih, Pak,” kata Rama pada kapten kapal yang sudah
berjasa membawa mereka kabur.
Kapten hanya mengangguk, matanya
tajam seolah mengerti bahwa penumpang malam ini sedang menghindari
sesuatu. “Kalau kau butuh tumpangan lagi, cari aku di sini. Tapi
ingat, jangan bawa masalah ke kapal ini,” ujarnya, lalu pergi.
Amanda memandang sekeliling. “Sekarang kita ke mana? Aku nggak
familiar sama daerah ini.”
Rama menghela napas. “Kita nggak
bisa langsung pulang. Mereka pasti sudah sebar orang. Kita butuh
tempat aman dulu.”
Mereka berjalan menyusuri jalan setapak menuju area nelayan. Beberapa perahu kecil diikat di tepi dermaga, dan hanya sedikit orang yang masih terjaga. Di sebuah warung kopi tua, Rama melihat seorang pria tua sedang duduk sambil merokok, wajahnya penuh keriput.
Pak Darto, kenalan lama Rama saat dia dulu pernah membantu proyek
renovasi gudang ikan di daerah ini.
“Rama?” suara pria itu
terkejut. “Sudah lama kau nggak kelihatan. Kok datang malam-malam?”
Rama menatapnya serius. “Butuh tempat nginap semalam, Pak. Ada
urusan… agak rumit.”
Pak Darto melirik Amanda, lalu kembali
menatap Rama. “Kalau begitu, ikut aku.”
Mereka dibawa ke rumah sederhana di belakang warung kopi. Bukan tempat mewah, tapi cukup untuk istirahat. Amanda duduk di kursi kayu, memijat pelipisnya. “Aku nggak nyangka hidupku bisa kayak drama film.”
Rama menuangkan air minum. “Bedanya, ini nyata. Dan kita harus
siap kalau mereka menemukan kita.”
Amanda menatap Rama,
matanya serius. “Kalau mereka datang lagi, aku nggak mau cuma
bersembunyi. Aku mau lawan.”
Rama sedikit terkejut. “Kamu tahu siapa mereka? Mereka bukan
orang biasa.”
Amanda mengangguk pelan. “Justru karena itu.
Aku udah lama muak lihat orang-orang kaya arogan yang pikir mereka
bisa beli atau ambil apa saja.”
Hening sejenak. Di luar, suara ombak memecah keheningan
malam.
Rama sadar—ini bukan lagi sekadar melindungi Amanda.
Sekarang mereka berada di pusaran masalah yang akan mengubah hidup
mereka berdua.
Bab 18 – Rencana di Balik Malam
Pagi datang dengan cahaya tipis yang menyelinap lewat celah dinding papan rumah Pak Darto. Udara laut masih dingin, dan aroma kopi hitam memenuhi ruangan. Rama sudah bangun lebih dulu, duduk di meja kecil sambil menatap peta lusuh yang ia pinjam dari Pak Darto.
Amanda keluar dari kamar dengan rambut yang sedikit berantakan, wajahnya tanpa riasan tapi tetap terlihat memukau. “Kamu nggak tidur?” tanyanya sambil duduk di seberang.
“Tidur sebentar,” jawab Rama. “Aku coba mikir jalur aman buat kita.”
Amanda menyesap kopi yang sudah disiapkan. “Kalau cuma sembunyi terus, kita nggak akan selesai dari masalah ini. Mereka akan tetap nyari aku… dan mungkin kamu.”
Rama memandangnya tajam. “Aku tahu. Makanya aku punya ide. Tapi… ini agak berisiko.”
Amanda meletakkan cangkirnya. “Risiko udah jadi bagian hidup kita sekarang. Coba jelasin.”
Rama menunjuk peta. “Kita nggak bisa terus ngelawan frontal. Mereka punya uang, orang, dan pengaruh. Tapi ada satu kelemahan—hubungan bisnis mereka sama perusahaan keluarga kamu.”
Amanda mengerutkan kening. “Kamu mau manfaatin ayahku?”
“Bukan
‘manfaatin’,” Rama menegaskan. “Kita minta dia turun tangan
secara tidak langsung. Kalau ayahmu tahu kamu dalam bahaya, dia nggak
akan tinggal diam. Tapi kita harus punya bukti kuat kalau orang-orang
itu yang ngejar kamu.”
Amanda berpikir sejenak. “Bukti…” Dia lalu teringat. “Waktu di parkiran malam itu, salah satu dari mereka nelpon seseorang dan nyebut nama ‘Tirta Group’. Itu perusahaan ayah sering kerja sama.”
Rama mengangguk. “Kalau kita bisa rekam mereka atau dapat data soal itu, ayahmu bisa memutus kerjasama, bahkan bikin mereka rugi besar. Itu akan bikin mereka mundur.”
Pak Darto masuk membawa roti tawar dan ikan asin. “Kalian kelihatan serius banget. Tapi ingat, kalau mau main sama orang gede, pastikan kalian nggak cuma punya nyali… tapi juga jalan keluar.”
Amanda menatap Rama. “Kalau aku ikut… kita harus siap hadapi
mereka langsung, kan?”
Rama tersenyum tipis. “Iya. Tapi kali
ini, kita yang bakal nyerang dulu.”
Di luar, ombak menghantam karang, seakan memberi irama untuk
rencana yang mulai terbentuk.
Pertarungan ini bukan lagi sekadar
melarikan diri—ini akan menjadi langkah pertama untuk membalik
keadaan.
Bab 19 – Umpan di Tengah Kota
Siang itu, kota terasa lebih panas dari biasanya. Matahari memantul di gedung-gedung tinggi, menyilaukan pandangan siapa pun yang menengadah. Rama dan Amanda berdiri di sudut jalan dekat sebuah kafe kecil. Amanda mengenakan kemeja putih longgar, rambutnya diikat rendah. Kacamata hitam menutupi sebagian wajahnya, tapi kecantikannya tetap terlihat jelas bagi orang yang memperhatikan.
“Kamu yakin ini nggak terlalu berisiko?” tanya Amanda sambil memperbaiki posisi kacamatanya.
Rama, dengan jaket hitam dan topi yang menutupi sebagian wajah, memandang sekeliling. “Kalau mau dapat bukti, kita harus bikin mereka keluar. Dan satu-satunya cara… ya, memancing mereka dengan keberadaanmu.”
Amanda menelan ludah. “Jadi aku ini umpannya?”
“Kamu
ini partner, bukan umpan,” Rama mengoreksi. “Bedanya… kali ini
kamu tahu rencananya.”
Mereka masuk ke kafe, memilih meja dekat jendela besar. Dari sana, Rama bisa memantau jalan dan refleksi di kaca. Amanda pura-pura sibuk dengan laptopnya, tapi tangannya sedikit bergetar.
Tak butuh waktu lama. Rama melihatnya—dua pria dengan gaya yang terlalu “seragam” untuk dianggap kebetulan. Jaket kulit, rambut cepak, dan komunikasi singkat lewat earphone. Mereka berpencar, satu masuk ke kafe, satunya tetap di luar.
“Target udah datang,” bisik Rama pelan lewat mikrofon kecil yang terhubung ke ponselnya—langsung mengirimkan rekaman ke cloud yang sudah diamankan.
Pria yang masuk duduk tak jauh dari Amanda, memesan kopi, lalu mulai memperhatikan gerak-geriknya. Amanda pura-pura tak sadar, meski jantungnya berdegup kencang.
Beberapa menit kemudian, pria itu menerima telepon. Rama
memfokuskan telinganya.
“Ya, dia di sini. Bilang ke Tirta,
kita siap ambil sekarang,” ucap pria itu lirih tapi cukup terdengar
oleh mikrofon yang sudah Rama arahkan sebelumnya.
Itu dia. Bukti pertama.
Rama segera mengirimkan rekaman itu ke sebuah akun email anonim, lalu berdiri. “Waktunya keluar,” katanya.
Amanda mengemasi barangnya, tapi sebelum mereka bisa melangkah, pria di luar kafe ikut masuk. Dua lawan, pintu depan tertutup. Suasana mulai menegang.
“Ada rencana?” tanya Amanda pelan.
“Ada,” jawab Rama
sambil tersenyum tipis. “Tapi agak… berisik.”
Bab 20 – Kopi Tumpah dan Kursi Terbalik
Rama berdiri perlahan, seolah hendak pergi membayar. Ia menghitung jarak meja ke pintu belakang kafe yang kecil dan tersembunyi di dekat dapur. Amanda sudah paham arah pandangannya—itu satu-satunya jalan keluar tanpa berhadapan langsung dengan dua pria yang sekarang menghalangi pintu depan.
Pria pertama yang duduk di dekat Amanda menegakkan tubuhnya. “Mbak, mau ke mana?” suaranya dibuat sopan, tapi matanya jelas mengintimidasi.
Amanda menoleh singkat, pura-pura tersenyum. “Mau ke
toilet.”
“Boleh saya temenin?” Nada itu terdengar seperti
pertanyaan, tapi jelas bukan tawaran yang tulus.
Rama menaruh dompet di meja kasir pura-pura membayar, lalu sengaja
menumpahkan cangkir kopi yang baru saja diantarkan barista untuk
pelanggan lain.
Tump!
Kopi panas itu jatuh ke
pangkuan pria kedua yang baru saja masuk, membuatnya berdiri mendadak
sambil mengumpat.
“Waduh, maaf banget, mas!” kata Rama keras, lalu berpura-pura panik sambil menarik tisu dari meja terdekat. Dalam kekacauan itu, ia menyenggol kursi dengan sengaja, menjatuhkannya tepat ke kaki pria pertama.
Amanda paham isyaratnya. Begitu kursi jatuh, ia berdiri dan berjalan cepat ke arah pintu belakang. Rama mengikuti, tapi sempat menabrak bahu pria pertama cukup keras hingga pria itu terdorong ke meja lain.
“Eh, berhenti lu!” teriak pria itu. Tapi suara bising di kafe, pelanggan yang mulai protes, dan barista yang kebingungan membuat kejaran mereka sedikit tertunda.
Rama dan Amanda melewati dapur sempit, keluar lewat pintu besi
kecil, dan langsung menuju gang belakang.
“Ayo cepat!” Rama
menarik tangan Amanda.
Begitu keluar ke jalan kecil, Rama mengarahkan Amanda ke motor
yang ia parkir di tempat sepi. Helm sudah siap.
“Naik!”
katanya singkat.
Begitu Amanda duduk di belakang dan memeluk pinggangnya, Rama memutar kunci, mesin meraung, dan mereka melesat keluar dari gang, meninggalkan suara teriakan dua pria yang gagal mengejar.
“Rama…” suara Amanda bergetar, tapi bukan karena takut,
melainkan campuran adrenalin dan rasa lega.
“Hm?”
“Kamu…
beneran gila.”
“Kalau nggak gila, kita udah di mobil mereka
sekarang,” jawab Rama sambil memacu motor menembus keramaian kota.
