LIFE OF RAMA PART 3
Bab 21 – Gang Sempit dan Napas yang Terburu
Motor itu akhirnya berhenti di sebuah gang sempit dekat pasar malam yang masih ramai. Lampu neon warna-warni, suara musik dari wahana, dan aroma sate bakar menutupi jejak mereka. Rama mematikan mesin, lalu menoleh.
“Kita aman sebentar di sini,” katanya pelan.
Amanda masih memegang pinggang Rama lebih erat dari yang perlu. Napasnya belum teratur. “Aku… nggak nyangka kamu berani tadi.”
Rama mengangkat alis. “Kalau aku nggak berani, kamu sekarang mungkin sudah… entah di mana. Jadi ya, nggak ada pilihan.”
Amanda menatapnya sebentar, lalu tersenyum samar. “Tapi… kamu
bisa aja cuma diam dan pura-pura nggak lihat.”
“Sayangnya
aku bukan tipe orang yang bisa pura-pura nggak lihat,” jawab Rama
sambil menatap ke arah kerumunan, memastikan tidak ada yang
mengikuti.
Amanda menghela napas panjang. “Kamu tahu nggak? Dua orang tadi
itu bukan orang asing buat aku.”
Rama menoleh cepat. “Maksud
kamu?”
“Mereka pernah muncul di acara ayahku. Aku nggak tahu
hubungan pastinya… tapi aku dengar nama ‘Tirta’ disebut-sebut.”
Nama itu langsung membuat Rama teringat pada potongan kalimat yang dia dengar di kafe tadi. Tirta—entah siapa dia—sepertinya punya hubungan langsung dengan orang-orang yang tadi mengincar Amanda.
“Kalau gitu, berarti masalah kamu lebih besar dari yang aku
kira,” kata Rama, nada suaranya berat.
Amanda menunduk. “Aku
udah terbiasa menghadapi orang yang cuma lihat aku sebagai jalan
pintas. Tapi malam ini… rasanya beda. Mereka kayak bener-bener niat
nyeret aku pergi.”
Rama merogoh saku jaketnya, mengeluarkan ponselnya, lalu memeriksa waktu. “Kita nggak bisa balik ke rumah kamu sekarang. Kalau mereka tahu mobil supir kamu, mereka pasti sudah siap nunggu di sekitar sana.”
Amanda mengangguk, tapi kemudian memandang Rama ragu-ragu. “Terus… kita mau ke mana?”
Rama berpikir sebentar. “Ada tempat… bukan mewah, tapi aman. Kos temenku. Dia lagi di luar kota, jadi kamarnya kosong. Kita bisa nginep di sana sementara.”
Amanda menatapnya lama, lalu tersenyum tipis. “Kalau orang tuaku
tahu, mereka pasti marah besar.”
Rama mengangkat bahu. “Kalau
nyawa kamu aman, marah mereka urusan nanti.”
Tanpa berkata apa-apa lagi, Amanda mengangguk. Mereka pun kembali naik motor, menyelinap keluar dari keramaian pasar malam menuju tempat yang lebih sunyi.
Bab 22 – Malam di Kos Tua
Rama memarkir motornya di depan sebuah bangunan dua lantai yang catnya mulai memudar. Lampu teras redup, dan suara jangkrik mendominasi suasana malam.
“Ini dia,” kata Rama sambil turun dari motor. Ia melepas helmnya dan memberikan helm Amanda. “Hati-hati, anak tangganya agak curam.”
Amanda turun pelan, matanya menyapu sekeliling. “Tempat ini…
jauh banget dari bayangan aku.”
“Kalau mau aman, harus di
tempat yang nggak terpikirkan orang. Justru kalau aku ajak ke hotel
atau apartemen mewah, itu jadi target empuk,” jawab Rama sambil
mengeluarkan kunci.
Pintu kamar terbuka. Isinya sederhana: kasur single, meja belajar, lemari kayu tua, dan kipas angin di langit-langit. Aroma kayu lembap bercampur sedikit wangi sabun cuci baju.
“Aku tahu ini nggak mewah,” kata Rama, “tapi di sini kita nggak akan dicari orang.”
Amanda tersenyum tipis, lalu duduk di ujung kasur. “Aku nggak masalah. Justru… anehnya aku merasa lebih aman di sini dibanding di rumahku sendiri.”
Rama menatapnya, merasa ada sesuatu di balik kata-kata itu. “Kamu bilang tadi, mereka yang nyerang kamu malam ini pernah muncul di acara ayah kamu. Itu maksudnya apa?”
Amanda menarik napas dalam-dalam, lalu menatap Rama. “Aku nggak bisa cerita semua… tapi keluargaku nggak bersih-bersih amat. Ayahku punya partner bisnis yang kadang main di wilayah abu-abu. Dan aku… cuma ‘bonus’ yang dianggap bisa dipakai buat jalin koneksi.”
Rama mengerutkan kening. “Maksud kamu, mereka mau… menjodohkan
kamu demi keuntungan bisnis?”
Amanda mengangguk pelan. “Dan
aku nolak. Dari situ, beberapa orang mulai ‘mengatur’ caranya
sendiri. Malam ini mungkin bagian dari itu.”
Rama terdiam, memproses semuanya. Sekarang ia mengerti kenapa Amanda gigih membangun karirnya sendiri, dan kenapa ia tak mau terlalu mengandalkan keluarganya.
“Kalau gitu,” kata Rama akhirnya, “kamu nggak cuma butuh tempat aman. Kamu butuh rencana.”
Amanda tersenyum samar. “Makanya… aku senang ketemu kamu malam
ini.”
Rama membalas senyumnya, walau di dalam hatinya ia tahu,
mulai saat ini hidupnya mungkin akan ikut masuk ke dalam lingkaran
masalah yang jauh lebih besar dari yang ia kira.
Bab 23 – Pagi yang Tidak Tenang
Matahari belum sepenuhnya naik ketika Rama terbangun oleh suara langkah di lorong kos. Ia refleks menoleh ke Amanda, yang masih tertidur di ujung kasur dengan selimut menutupi sebagian wajahnya.
Langkah itu berhenti tepat di depan pintu. Rama menahan napas, lalu pelan-pelan bangkit. Dari balik pintu terdengar suara Ibu kos.
“Rama, ada yang nyari kamu,” katanya, agak pelan tapi cukup jelas.
Rama langsung merasakan darahnya dingin. Ia mendekat ke pintu dan berbisik, “Siapa, Bu?”
“Bilangnya teman lama, tapi… bajunya rapi banget. Kayak orang kantoran, tapi tatapannya dingin,” jawab Ibu kos.
Rama langsung mengerti, ini bukan teman lama. Ia menoleh ke Amanda yang kini terbangun dan duduk, pandangannya penuh tanya. Rama menaruh jari di bibirnya memberi isyarat diam.
“Ibu, bilang aja saya lagi keluar. Suruh dia ninggalin pesan,” ucap Rama sambil berusaha membuat suaranya terdengar santai.
Ada jeda beberapa detik sebelum Ibu kos menjawab, “Baik.”
Langkah itu perlahan menjauh, namun Rama tahu orang itu tidak akan benar-benar pergi begitu saja. Ia menutup tirai jendela rapat-rapat, lalu duduk di kursi sambil menatap Amanda.
“Mereka sudah mulai nyari kamu,” kata Rama. “Dan kalau mereka tahu kamu di sini, kita nggak punya banyak waktu.”
Amanda mengangguk pelan. “Aku nggak mau nyeret kamu lebih jauh. Tapi… aku juga nggak mau kembali.”
Rama berpikir cepat. “Kalau gitu, kita harus pindah tempat sebelum malam. Tapi kali ini, kita nggak cuma sembunyi—kita cari tahu siapa yang di belakang semua ini.”
Amanda menatapnya, matanya sedikit berkilat. “Kamu serius?”
Rama mengangguk. “Aku udah keburu ikut campur, Amanda. Jadi sekalian saja kita balik arah—kita yang berburu mereka.”
Amanda tersenyum tipis, untuk pertama kalinya sejak semalam. “Kalau gitu… aku ikut.”
Rama hanya membalas dengan anggukan, tapi dalam hatinya ia sadar—keputusan ini akan mengubah segalanya.
Bab 24 – Keluar dari Sarang
Sore menjelang malam, langit Jakarta mulai diselimuti cahaya jingga. Rama menutup ransel kecilnya—satu-satunya bawaan yang ia punya—dan memberi Amanda sebuah hoodie hitam untuk menutupi wajahnya.
“Kita tunggu sampai warung depan agak ramai, baru keluar. Orang itu kemungkinan masih ngawasin dari jauh,” bisik Rama.
Amanda mengangguk. Ia memegang resleting hoodie rapat-rapat, matanya sesekali melirik ke jendela. Di luar, suara motor, klakson, dan pedagang kaki lima menjadi latar yang menenangkan tapi menipu.
Sekitar pukul 6, mereka keluar dari kamar. Rama memegang pintu kos pelan, memastikan engselnya tidak berdecit. Mereka berjalan menyusuri lorong menuju pintu depan kos, dan tepat ketika mereka hendak keluar—
“Rama,” suara berat itu terdengar dari samping gerbang.
Seorang pria dengan jas gelap, kemeja putih, dan tatapan tajam berdiri di sana. Tangannya memegang ponsel, tapi mata fokus pada Rama.
Refleks, Rama mendorong Amanda sedikit ke belakang tubuhnya. “Maaf, saya buru-buru,” katanya cepat.
Pria itu tersenyum tipis. “Nggak lama. Bos saya cuma mau bicara sebentar.”
Amanda menunduk, mencoba menghindari kontak mata, tapi pria itu memiringkan kepala sedikit, seperti sedang memastikan wajah di balik hoodie.
Rama tahu kalau mereka diam terlalu lama, situasi akan pecah. Maka ia melakukan sesuatu yang nekat—menyambar gelas plastik berisi kopi dingin dari meja warung depan dan “tidak sengaja” menumpahkannya ke sepatu si pria.
“Waduh! Maaf banget, Pak!” Rama bersandiwara panik, sementara si pria mengumpat pelan sambil menunduk membersihkan sepatunya.
Itu momen mereka. Rama menggandeng Amanda, berjalan cepat ke arah gang kecil di samping kos. Detak jantung mereka berpacu, suara teriakan “Hei!” terdengar dari belakang.
Gang itu berliku, dan Rama tahu satu jalur yang tembus ke halte bus di ujung jalan. Mereka menembus kerumunan penumpang, dan tepat ketika bus kota berhenti, Rama menarik Amanda naik.
Pintu bus menutup, dan dari jendela, mereka melihat si pria berjas gelap itu berdiri di trotoar, menatap mereka pergi. Tatapan yang bukan sekadar marah—tapi janji akan pertemuan berikutnya.
Bab 25 – Percakapan di Dalam Bus
Bus kota berguncang pelan saat melaju di jalur Transjakarta. Lampu-lampu jalan mulai menyala, memantulkan cahaya ke jendela yang penuh bercak debu. Suasana di dalam bus cukup ramai, tapi cukup bising untuk membuat pembicaraan mereka tidak terlalu mencolok.
Amanda duduk di kursi dekat jendela, menarik napas panjang. Rama berdiri di sampingnya, berpegangan pada tiang, memastikan posisinya menutupi pandangan orang dari luar.
“Aman?” tanya Amanda pelan.
“Untuk sekarang, iya,” jawab Rama, menatap keluar untuk berjaga. “Tapi kita nggak bisa pulang ke kos atau ke rumah kamu. Orang itu pasti sudah pasang orang di sana.”
Amanda terdiam sejenak, lalu menggigit bibirnya. “Rama… ada hal yang harus aku jelasin.”
Rama mengangguk pelan, memberi isyarat agar ia melanjutkan.
“Aku… sebenarnya tahu siapa orang yang nyuruh mereka,” Amanda berkata lirih, matanya menerawang. “Dia bukan orang asing. Dia… tunangan yang dijodohkan orang tuaku.”
Rama mengerutkan dahi. “Tunggu. Tunangan? Bukannya kamu bilang kamu nggak mau dijodohin?”
“Aku memang nggak mau,” jawab Amanda cepat. “Itu sebabnya aku kabur waktu itu. Dia bukan cuma arogan… dia juga punya masalah temperamen. Pernah sekali, waktu aku nolak ikut acara keluarganya, dia narik tanganku kasar di depan orang banyak. Aku… nggak mau hidup seperti itu.”
Rama merasakan ada sesuatu yang lebih gelap di balik kata-kata Amanda. “Jadi, dia kirim orang buat bawa kamu pulang?”
Amanda mengangguk pelan. “Dia nggak mau ada berita bahwa aku pergi tanpa izin. Itu bisa bikin keluarganya malu. Dan… kalau dia sampai tahu aku sering bareng sama kamu…” Amanda menggantung kalimatnya, tapi tatapan matanya jelas—bisa berbahaya.
Suara pengeras di bus mengumumkan halte berikutnya. Rama menatap Amanda serius. “Kalau gitu, kita harus bikin rencana. Bukan cuma sembunyi, tapi juga cari cara biar dia nggak bisa nyentuh kamu lagi.”
Amanda menatap Rama, matanya sedikit berkaca-kaca. “Kenapa kamu mau bantu aku sejauh ini, Rama?”
Rama tersenyum tipis. “Karena dari awal aku nggak pura-pura peduli. Aku memang peduli.”
Bus melambat, dan Rama memutuskan mereka turun di halte berikutnya—tempat yang lebih ramai, di mana mereka bisa berpindah arah tanpa mudah dilacak.
Tapi sebelum mereka turun, Amanda sempat meraih lengan Rama. “Kalau aku bilang… aku lebih pilih kamu daripada semua kenyamanan yang keluargaku kasih, kamu percaya?”
Rama menatapnya lama. “Kita selamatin diri dulu, baru kita bahas soal itu.”
Mereka turun, melangkah ke trotoar yang dipenuhi lampu toko dan aroma makanan jalanan. Tapi di seberang jalan, samar-samar Rama melihat sebuah sedan hitam berhenti—terlalu lama untuk sekadar mobil biasa.
Bab 26 – Bayangan di Malam Hari
Begitu kaki Rama dan Amanda menginjak trotoar, angin malam menyapu wajah mereka. Lampu-lampu toko berkelip, aroma sate dan gorengan bercampur dengan asap kendaraan. Namun, perhatian Rama terfokus pada sedan hitam di seberang jalan yang mesinnya masih menyala.
“Jalan cepat,” bisik Rama, tanpa memberi kesempatan Amanda bertanya.
Amanda menurut. Sepatu hak pendeknya menapak cepat di trotoar, sementara Rama tetap di sisinya, matanya sesekali menoleh ke belakang. Sedan itu mulai bergerak pelan, seolah mengikuti irama langkah mereka.
“Rama…” suara Amanda bergetar. “Itu mereka, kan?”
“Kayaknya,” jawab Rama singkat. “Kita nggak bisa ke arah yang sepi.”
Mereka belok ke sebuah gang kecil yang menghubungkan trotoar besar dengan jalan pasar malam. Lampu-lampu gantung di atas kepala membuat suasana gang itu setengah remang. Di ujung gang, suara musik dangdut koplo terdengar dari panggung kecil di pasar.
Begitu keluar dari gang, Rama langsung menuntun Amanda masuk ke keramaian. Mereka melewati deretan pedagang mainan, pakaian, dan makanan. Aroma jagung bakar bercampur dengan teriakan penjual yang berlomba menarik pelanggan.
“Kalau kita nyebur ke keramaian, mereka bakal susah ngikutin tanpa ketahuan,” ucap Rama.
Namun, sedan hitam itu tidak muncul lagi. Sebagai gantinya, Rama melihat dua pria berjaket hitam menyusuri pasar dari arah berbeda, matanya menyapu setiap wajah.
“Amanda, pegang tanganku,” kata Rama, meraih jemari Amanda tanpa ragu. “Kita pura-pura pasangan, biar mereka nggak curiga.”
Amanda menggenggam tangannya erat. “Kalau pura-pura, kenapa jantungmu berdegup kencang?” tanyanya lirih, mencoba tersenyum di tengah tegangnya suasana.
Rama tidak menjawab. Ia hanya menunduk sedikit, memastikan wajahnya tak langsung terlihat. Mereka berbaur di antara kerumunan yang membeli jajanan dan menonton musik panggung.
Namun, saat Rama menoleh, salah satu pria berjaket hitam itu menatap langsung ke arah mereka—dan mulai bergerak cepat.
Rama menarik Amanda ke arah belakang panggung, di mana lampu redup dan orang-orang lebih sedikit. Tapi sebelum mereka sempat melangkah jauh, suara itu terdengar:
“HEI! BERHENTI!”
Amanda terkejut, Rama menoleh… dan melihat pria itu sudah hanya berjarak lima meter.
Bab 27 – Kejar-Kejaran di Pasar Malam
Rama menoleh sekejap ke Amanda, menatap matanya. “Ikuti aku, jangan lepaskan tanganku.”
Amanda mengangguk, meski napasnya mulai tersengal. Mereka menembus kerumunan, berpura-pura seperti pasangan yang sedang menikmati malam. Namun di belakang, pria berjaket hitam itu bergerak cepat, menembus orang-orang dengan fokus tajam.
Rama menunduk sebentar ke Amanda. “Kalau mereka semakin dekat, kita belok ke lorong di samping panggung.”
Amanda mengangguk lagi, menggenggam tangannya lebih erat. Aroma sate dan jagung bakar terasa sesak di hidung, tapi suara musik dangdut menutupi suara langkah mereka.
Begitu mereka berbelok, Rama mendengar suara teriakan dari arah belakang. “JANGAN LARI!”
Satu pria lagi muncul dari sisi lain pasar, menutup kemungkinan jalan keluar. Rama cepat berpikir. Ia melihat sebuah warung kecil yang sedang sepi, dengan tumpukan kotak kardus di sampingnya.
“Masuk sini!” teriaknya, menarik Amanda ke dalam.
Mereka bersembunyi di balik kotak, napas terengah-engah. Dari celah kotak, mereka melihat kedua pria itu melewati warung
mereka bernapas agak normal kembali.
“Kita nggak bisa terus-terusan bersembunyi di sini,” bisik Amanda, matanya masih menatap ke arah pintu warung. “Mereka bakal balik lagi.”
Rama mengangguk, matanya menelusuri setiap sudut warung. “Aku tahu jalur lain. Ada gang sempit di belakang pasar, bisa bawa kita ke jalan utama yang lebih ramai. Kalau kita cepat, mereka nggak akan nyangka kita lewat situ.”
Amanda menghela napas panjang, lalu menatap Rama. “Aku ikut apa pun arahmu.”
Mereka meluncur keluar dari warung, hati-hati tapi cepat, menyelinap di antara kios-kios yang mulai tutup. Pria berjaket hitam itu masih terlihat dari kejauhan, tapi kerumunan membuat mereka kehilangan jejak.
Begitu sampai di gang sempit, Rama menarik Amanda ke sisi tembok. “Dari sini kita harus lari sampai ujung gang, baru bisa aman. Jangan bicara, fokus sama langkahmu.”
Amanda menggenggam tangannya lebih erat, dan mereka mulai berlari. Langkah kaki mereka beradu dengan suara kerikil dan pecahan kayu di gang sempit, napas terengah-engah tapi adrenalin membuat mereka tetap fokus.
Akhir gang mulai terlihat—lampu jalan yang lebih terang. Rama menarik Amanda ke sana, dan begitu mereka keluar ke jalan utama, kerumunan orang yang pulang dari pasar menutupi jejak mereka sepenuhnya.
Amanda menoleh, wajahnya masih pucat tapi mata bersinar. “Rama… itu gila.”
Rama tersenyum tipis. “Gila? Bisa dibilang, ini baru awal.”
Mereka berjalan cepat menuju halte bus terdekat, sementara di belakang, bayangan sedan hitam masih diam-diam mengikuti dari jauh.
Bab 28 – Rencana di Balik Bukti
Di halte bus, Rama dan Amanda duduk di bangku panjang sambil menenangkan napas mereka. Lampu jalan redup, suara kendaraan yang lewat menambah ritme malam yang tegang. Rama mengeluarkan ponsel, membuka folder rekaman yang tadi ia ambil di kafe.
“Aku simpan semua ini di cloud,” kata Rama. “Kalau terjadi apa-apa, bukti ini bisa bikin mereka rugi. Bahkan bisa bikin ayahmu ambil tindakan tanpa kita harus kelihatan.”
Amanda menatap layar ponsel itu, wajahnya serius. “Jadi… kita nggak cuma sembunyi. Kita bisa balik menyerang, dengan cara yang mereka nggak duga.”
Rama mengangguk. “Tapi kita harus hati-hati. Orang-orang itu punya pengaruh, uang, dan koneksi. Kalau kita gegabah, semua usaha kita bisa gagal.”
Amanda menarik napas panjang. “Aku nggak takut, Rama. Aku… aku mau belajar menghadapi mereka. Dan aku percaya sama kamu.”
Rama menatapnya lama. Ada sesuatu di mata Amanda—campuran tekad, kepercayaan, dan sedikit rasa takut yang wajar. Ia tersenyum tipis. “Baik. Tapi pertama, kita butuh tempat aman sementara. Tempat di kos Pak Darto tadi terlalu dekat. Kalau mereka tahu kita pindah ke rumah temanmu atau keluarga… itu bakal bahaya.”
Amanda mencondongkan tubuhnya. “Kita bisa pakai rumah kosong yang aku tahu. Ayahku kadang meninggalkan properti itu tanpa ada yang jaga. Nggak jauh dari sini, tapi cukup tersembunyi.”
Rama mengangguk. “Bagus. Kita ke sana, simpan bukti, dan mulai rencanain langkah selanjutnya. Kalau kita bisa bikin mereka salah langkah, kita punya keuntungan.”
Amanda tersenyum tipis tapi penuh arti. “Kalau gitu, aku resmi jadi partnermu ya?”
Rama menatapnya dengan serius. “Bukan cuma partner. Kamu sekarang partner sekaligus alasan aku nggak mau kalah.”
Mereka saling menatap, dan untuk sesaat, dunia di sekitar seakan berhenti. Lampu jalan, suara kendaraan, dan keramaian kota seolah jadi latar belakang dari momen di mana dua orang memutuskan untuk bersatu menghadapi masalah yang lebih besar dari diri mereka sendiri.
Rama menutup ponsel, berdiri. “Ayo. Kita bergerak sebelum ada orang lain yang nyasar ke lokasi kita.”
Amanda berdiri di sampingnya, menggenggam tangannya erat. Bersama-sama, mereka menyusuri jalan malam, menuju rumah kosong yang akan menjadi markas sementara mereka—awal dari strategi yang akan membalikkan keadaan.
Bab 29 – Markas Sementara
Rumah kosong itu terletak di pinggir kota, jauh dari keramaian utama, dengan pagar rendah dan cat yang mulai pudar. Rama membuka gerbang perlahan, memastikan tidak ada yang memperhatikan. Amanda mengikuti di belakang, matanya menelusuri setiap sudut rumah.
“Tempat ini… sepi, tapi cukup aman,” kata Rama sambil menutup pintu gerbang. “Kita bisa atur semuanya di sini, tanpa gangguan.”
Amanda mengangguk. “Aku nggak masalah. Justru… di sini aku bisa fokus sama apa yang harus kita lakukan.”
Mereka memasuki ruang tamu kosong. Rama mengeluarkan laptop dari ransel dan mulai mengunggah rekaman dari kafe tadi ke cloud. Amanda duduk di lantai, menatap layar.
“Aku harus jelasin semuanya,” kata Amanda. “Tentang siapa yang di belakang orang-orang itu… dan kenapa mereka begitu nekat.”
Rama duduk di sampingnya, memberi perhatian penuh. “Aku dengar. Cerita semua.”
Amanda menarik napas panjang. “Orang yang nyuruh mereka itu… tunangan yang dijodohkan orang tuaku. Tapi bukan sekadar masalah cinta atau keluarga. Dia ada di jaringan bisnis ayahku, dan dia… nggak mau ada orang yang menghalangi rencananya. Kalau aku menolak, itu dianggap ancaman.”
Rama mengangguk pelan, memproses informasi itu. “Jadi… mereka siap pakai cara apa pun buat memaksamu ikut dalam rencana mereka?”
Amanda menunduk. “Iya. Malam tadi cuma percikan pertama. Aku yakin… kalau kita nggak punya bukti atau strategi, mereka bakal terus mencoba.”
Rama memandangnya lama. “Kalau begitu, kita harus balik posisi. Kita nggak cuma sembunyi. Kita harus buat mereka salah langkah. Bukti yang kita punya bisa dipakai buat itu.”
Amanda menatap laptop, matanya berbinar. “Kamu serius, Rama? Aku nggak mau cuma jadi ‘korban’ lagi.”
Rama tersenyum tipis. “Serius. Mulai sekarang, kita yang pegang kendali. Dan… aku nggak akan biarkan mereka nyentuh kamu.”
Amanda menatapnya, sedikit tersenyum. “Kalau gitu, aku ikut semua rencanamu. Tapi kamu harus janji… jangan sampai aku cedera atau… kehilangan.”
Rama menggenggam tangannya, menatap matanya dengan tegas. “Aku janji. Kita lewati ini bareng. Selangkah demi selangkah, sampai mereka nggak punya kesempatan lagi.”
Malam itu, di rumah kosong yang sunyi, dua orang mulai menyusun strategi. Bukan lagi sebagai pelarian, tapi sebagai awal dari perlawanan. Dan untuk pertama kalinya, Amanda merasa bukan lagi sekadar anak kaya yang terancam—ia merasa punya sekutu sejati di sisi Rama.
Bab 30 – Menyusun Jebakan
Di dalam rumah kosong, Rama dan Amanda duduk di lantai sambil menatap layar laptop. Rekaman kafe, foto wajah pria berjas gelap, dan catatan kecil dari observasi mereka malam tadi sudah tersusun rapi.
“Kita butuh rencana yang bikin mereka lengah,” kata Rama. “Bukan cuma sembunyi, tapi juga kasih tekanan. Bukti yang kita punya bisa dipakai buat bikin mereka salah langkah.”
Amanda menatap layar, matanya fokus. “Kita mulai dari apa? Aku nggak pengen ada yang nyangka aku ikut campur lagi.”
Rama mencondongkan tubuh. “Kita bikin skenario seolah kamu akan ke tempat tertentu sendirian, biar mereka percaya kamu bisa dijangkau. Tapi sebenarnya, kita yang atur semua gerakannya dari sini.”
Amanda mengangguk pelan. “Oke… tapi aku cuma mau ikut arahanmu. Aku nggak bisa main sendiri.”
Rama tersenyum tipis. “Nggak perlu. Kita lakukan ini bareng.”
Ia membuka peta kota di laptop, menandai beberapa lokasi yang strategis—jalan-jalan sepi, gang sempit, dan kafe yang aman untuk pengawasan. “Di sini kita bisa pasang jebakan,” kata Rama sambil menunjuk satu titik di layar. “Kalau mereka datang, kita bisa rekam, ambil bukti, dan sekaligus memancing mereka keluar dari jaringan perlindungan mereka.”
Amanda menatap layar, matanya mulai bersinar. “Aku nggak menyangka… ini bisa jadi seperti permainan strategi nyata.”
“Bukan sekadar permainan,” jawab Rama. “Ini soal nyawa dan masa depan kamu. Kalau kita sukses, kamu bebas dari tekanan mereka. Kalau gagal… ya, kita nggak mau memikirkan itu sekarang.”
Amanda menarik napas panjang. “Oke. Aku percaya sama kamu.”
Rama menepuk pundaknya ringan. “Bagus. Malam ini kita siapin semua peralatan: ponsel cadangan, kamera, dan jalur keluar. Kita harus cepat dan hati-hati.”
Di rumah kosong itu, malam semakin larut. Dua orang yang sebelumnya hanya berada di posisi bertahan kini mulai memikirkan langkah ofensif. Strategi mereka bukan lagi sekadar melindungi diri, tapi mengambil kendali penuh atas situasi—dan mengubah ketakutan menjadi kekuatan.
